Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Sains yang Dingin di Tengah Bumi yang Membara: Menumbuhkan Awareness Ekologis Siswa Lewat SocioScientific Issues

Pendidikan Biologi perlu bertransformasi lewat Socio-Scientific Issues untuk menumbuhkan kesadaran ekologis

Bagikan:
Nurhidaya Fithriyah Nasution, S.Pd., M.Pd. Mahasiswi Program Doktor Pendidikan IPA, Universitas Negeri Padang, Dosen Institut Pendidikan Tapanuli Selatan. (Foto: dok pribadi)
Nurhidaya Fithriyah Nasution, S.Pd., M.Pd. Mahasiswi Program Doktor Pendidikan IPA, Universitas Negeri Padang, Dosen Institut Pendidikan Tapanuli Selatan. (Foto: dok pribadi)
A A

Oleh: Nurhidaya Fithriyah Nasution, S.Pd., M.Pd.

SETIAP kali bencana ekologis melanda, mulai dari banjir bandang yang menerjang pemukiman, kabut asap pekat akibat kebakaran hutan, hingga krisis air bersih, kita disuguhkan pada sebuah ironi yang getir.

Di luar dinding sekolah, alam sedang menjerit dan mengalami degradasi yang kian masif. Namun di dalam ruang kelas Biologi, proses pembelajaran sering kali berjalan tenang, teratur, dan seolah terisolasi dari realitas.

Siswa diuji untuk menghafal daur biogeokimia, menyebutkan urutan taksonomi, atau menghafal rumus fotosintesis di atas lembar kertas Ujian Akhir, tetapi gagap ketika diajak membedah mengapa hutan di sekitar mereka terus menyusut.

Pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan sebagai pendidik adalah, mengapa sekolah sering kali gagal melahirkan generasi yang memiliki kepekaan dan (awareness) yang nyata?

Jawaban dari teka-teki ini tidak terletak pada kurangnya jam pelajaran, melainkan pada akar filosofis bagaimana ilmu pengetahuan alam (IPA) dipahami dan diajarkan di ruang-ruang kelas kita.

Sains Bebas Nilai vs Realitas Krisis Ekologi

Secara historis, pendidikan sains di Indonesia kerap kali terjebak pada pandangan positivisme naif yang memandang sains sebagai entitas yang bebas nilai (value-free).

Pembelajaran Biologi sering direduksi menjadi penjejalan fakta-fakta kaku yang netral, steril dari masalah sosial, dan terpisah dari dinamika politik-ekonomi masyarakat. Siswa diajarkan memahami ekosistem seolah-olah manusia hanyalah penonton pasif di luar sistem tersebut.

Padahal, jika kita membedahnya dari dimensi ontologis filsafat ilmu, alam bukanlah sekadar objek eksploitasi yang dingin atau deretan istilah latin dalam buku teks. Alam adalah sistem kehidupan yang kompleks, di mana keberadaan manusia berkaitan erat dengan kelestariannya.

Ketika pembelajaran biologi mencabut dimensi ontologis ini, sains kehilangan jiwanya. Ia menjadi pengetahuan yang dingin di tengah bumi yang sedang membara.

Menggugat Epistemologi Pembelajaran: Membangun Kesadaran Melalui (SSI)

Untuk menjembatani jurang antara teori Biologi di kelas dan krisis ekologi di lapangan, kita memerlukan pergeseran paradigma epistemologis. Di sinilah pendekatan (SSI) mengambil peran sentral.

SSI adalah pendekatan pembelajaran yang mengangkat isu-isu sosial kontroversial yang berakar kuat pada konsep ilmiah nyata seperti dilema alih fungsi hutan untuk perkebunan, dampak limbah industri terhadap keanekaragaman hayati lokal, hingga konflik kepentingan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi lingkungan.

Ditinjau dari perspektif konstruktivisme dan inkuiri saintifik dalam sejarah pemikiran pendidikan IPA, pengetahuan tidak boleh ditransfer secara pasif dari guru ke otak siswa.

Melalui SSI, siswa diposisikan sebagai subjek aktif yang mengonstruksi pemahamannya sendiri dengan cara:

1. Menganalisis Data Empiris secara Kritis: Siswa tidak hanya menerima dogma, tetapi diajak memeriksa data tutupan lahan, indeks kualitas air, atau tren perubahan iklim lokal untuk membedakan antara klaim ilmiah yang sahih dengan narasi hegemoni atau greenwashing.

2. Menimbang Argumen Multiperspektif: Siswa dilatih melihat kerusakan alam tidak hanya dari kacamata biologi murni, tetapi juga dampak sosial, etika, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Core Reflection (Kajian Aksiologi): “Aksiologi filsafat ilmu mempertanyakan: untuk apa ilmu Biologi dipelajari jika lulusannya tetap apatis terhadap kerusakan bumi? Kesadaran (awareness) siswa tidak akan tumbuh dari hafalan rumus, melainkan dari keberanian ruang kelas untuk berkonfrontasi dengan dilema moral kehidupan nyata.”

Transformasi di Sekolah: Dari Kelas Teoretis ke Arena Kebijaksanaan

Bagaimana menghidupkan awareness berbasis SSI ini di tingkat persekolahan secara konkret? Sekolah dan para pendidik Biologi perlu melakukan langkah-langkah transformatif:

1. Penerapan Case Method dan Isu Lingkungan Lokal: Pembelajaran Biologi tidak perlu selalu merujuk pada contoh-contoh jauh di luar negeri.

Pendidik dapat membawa studi kasus lokal seperti pencemaran sungai terdekat, alih fungsi lahan sawah, atau ancaman terhadap spesies lokal ke dalam diskusi kelompok kecil (Case Method). Siswa diajak mencari solusi saintifik atas permasalahan nyata di lingkungan sekitar mereka.

2. Integrasi Keterampilan Abad ke-21 dan Siaga Bencana: Pembelajaran Biologi dikoneksikan dengan edukasi siaga bencana dan pembentukan karakter peduli lingkungan.

Keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) diasah bukan sekadar untuk menjawab soal rumit, melainkan untuk melatih siswa mengambil keputusan etis ketika berhadapan dengan isu kerusakan lingkungan.

Penutup: Merestorasi Generasi, Menyelamatkan Bumi

Kerusakan alam yang terjadi hari ini adalah cermin dari cara kita mendidik generasi masa lalu. Jika kita terus menyajikan sains Biologi sebagai pengetahuan yang garing, mekanistik, dan terpisah dari dilema kemanusiaan, maka kita sedang menyumbang lahirnya calon-calon pengambil keputusan yang cerdas secara teknis tetapi buta secara ekologis.

Sudah saatnya di sekolah kembali pada marwah filosofisnya. Melalui integrasi SocioScientific Issues (SSI), ruang kelas Biologi diubah dari sekadar menara gading hafalan menjadi arena persemaian kesadaran kritis.

Menyelamatkan alam tidak cukup hanya dengan aksi menanam pohon seremonial setahun sekali, melainkan harus dimulai dengan merestorasi cara berpikir dan anak-anak bangsa di ruang kelas setiap harinya. (*) 

Penulis adalah Mahasiswi Program Doktor Pendidikan IPA, Universitas Negeri Padang dan Dosen Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait