Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Tertekan! Dolar AS Tembus Rp18.050, Sentimen MSCI dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah dibuka melemah ke Rp18.050 per dolar AS pada 26 Oktober 2026. Simak sentimen MSCI, harga minyak dunia, dan agenda suku bunga The Fed.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (26/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut meskipun indeks dolar AS mulai bergerak turun di pasar global.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp18.050 per dolar AS, melemah 10 poin atau 0,06% dibandingkan posisi penutupan Jumat (23/10/2026) di Rp18.040 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) terpantau turun 0,17% ke level 101,636 pada pukul 09.00 WIB. DXY mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.

Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan dinamika dolar AS secara global, tetapi juga dipengaruhi sentimen khusus dari pasar domestik.

Sentimen MSCI Masih Membayangi Pergerakan Rupiah

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati dampak sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar keuangan Indonesia.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dapat dikelola meskipun kurs sempat bergerak melewati Rp18.000 per dolar AS.

Menurut Erwin, pelaku pasar mulai mencerna dampak perkembangan terkait MSCI secara bertahap. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu meredakan tekanan terhadap rupiah.

Meski demikian, arah pergerakan mata uang domestik tetap bergantung pada perkembangan sentimen investor, arus modal asing, serta respons pasar terhadap langkah pembenahan pasar modal Indonesia.

Pelaku pasar akan mengamati apakah tekanan jual terhadap aset domestik berangsur mereda atau justru berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global.

Harga Minyak Brent Turun, Risiko Pasokan Belum Hilang

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah dunia mulai mengalami koreksi setelah melonjak tajam pada akhir pekan lalu.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,34% menjadi US$115,16 per barel pada Senin (26/10/2026) pukul 00.18 GMT atau 07.18 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,55% ke level US$101,67 per barel.

Koreksi harga terjadi setelah minyak menguat akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi.

Sepanjang pekan sebelumnya, harga Brent tercatat naik sekitar 6%, sedangkan WTI menguat 2,3%. Dengan demikian, penurunan pada awal pekan belum sepenuhnya menghilangkan risiko gangguan pasokan energi global.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut penting untuk dicermati karena kebutuhan impor minyak dan produk energi dapat meningkatkan permintaan valuta asing ketika harga energi bertahan tinggi.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar beban impor dan menambah tekanan terhadap inflasi. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan eksternal dan pergerakan rupiah.

Keputusan The Fed Jadi Penentu Sentimen Global

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor pada pekan ini tertuju pada agenda ekonomi Amerika Serikat, terutama keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Berdasarkan kalender resmi Federal Reserve, pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026, dengan pengumuman keputusan pada 28 Oktober waktu AS.

Keputusan suku bunga tersebut berpotensi memengaruhi imbal hasil aset berdenominasi dolar AS dan arah aliran modal internasional. Apabila kebijakan moneter AS dinilai lebih ketat dari perkiraan pasar, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi meningkat.

Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih akomodatif dapat memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat, bergantung pada respons investor dan kondisi ekonomi masing-masing negara.

Investor juga akan mencermati rilis data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal III 2026 serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk September yang dijadwalkan pada 29 Oktober waktu AS. Kedua indikator tersebut dapat memberikan gambaran mengenai pertumbuhan ekonomi dan tekanan inflasi AS.

Prospek Rupiah Masih Dibayangi Ketidakpastian

Pergerakan rupiah pada awal pekan ini dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, perkembangan terkait MSCI dan arus modal asing menjadi perhatian, sedangkan dari luar negeri pasar menghadapi risiko geopolitik, fluktuasi harga minyak, serta arah kebijakan moneter AS.

Penurunan DXY pada pagi hari belum cukup untuk memastikan rupiah akan segera menguat. Pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan permintaan dolar, arus modal, dan respons investor terhadap berbagai agenda ekonomi global.

Dengan kurs pembukaan di Rp18.050 per dolar AS, pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Senin akan menjadi perhatian untuk melihat apakah tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda atau masih berlanjut.

Investor dan pelaku usaha disarankan mencermati perkembangan pasar secara berkala karena perubahan sentimen global dapat memicu volatilitas nilai tukar dalam waktu singkat.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait