Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.900 per Dolar AS, Inflasi AS Bayangi Pasar

Rupiah melemah ke Rp17.900 per dolar AS pada awal perdagangan, dibayangi inflasi AS, prospek suku bunga The Fed, dan rilis data PPI terbaru.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10/2026). Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), menyusul data inflasi yang melampaui perkiraan pasar.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp17.900 per dolar AS, melemah tipis 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026) di posisi Rp17.895 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 0,47 persen ke level 102,068 pada pukul 09.00 WIB.

Pelemahan indeks dolar tersebut belum serta-merta mendorong penguatan rupiah pada awal perdagangan. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi AS, khususnya tekanan inflasi dan kemungkinan respons bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.

Inflasi AS Melampaui Perkiraan Pasar

Tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari perkembangan inflasi di Amerika Serikat. Pada September 2026, inflasi AS tercatat mencapai 3,7 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan 3,4 persen pada Agustus. Angka tersebut juga melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6 persen.

Secara bulanan, indeks harga konsumen AS naik 0,6 persen, menjadi kenaikan tertinggi sejak April 2026. Sementara itu, inflasi inti meningkat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi. Kondisi ini turut menimbulkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat apabila tekanan harga terus berlanjut.

Kepala Ekonom AS AllianceBernstein, Eric Winograd, menilai tekanan biaya energi masih berpotensi membebani konsumen.

“Meski sebagian besar hilangnya daya beli disebabkan oleh kenaikan biaya energi, tidak ada alasan untuk memperkirakan tekanan tersebut akan mereda dalam waktu dekat,” ujar Winograd, dikutip dari Reuters.

Inflasi yang bertahan tinggi dapat memengaruhi pertimbangan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Jika tekanan harga belum mereda, bank sentral AS berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Situasi tersebut menjadi perhatian pasar keuangan global karena perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar dan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pasar Menanti Sinyal Kebijakan The Fed

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada agenda pertemuan Ketua The Fed Kevin Warsh dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva dalam rangkaian pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand, Kamis (15/10/2026), pukul 10.30 WIB.

Pasar akan mencermati pandangan Warsh mengenai perkembangan ekonomi AS dan prospek kebijakan suku bunga ke depan. Pernyataan pejabat bank sentral menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter.

Bagi rupiah, prospek suku bunga AS penting dicermati karena perbedaan imbal hasil aset keuangan dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana di pasar global.

Apabila ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi, dolar berpotensi memperoleh dukungan. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih longgar dapat mengubah arah sentimen pasar, meskipun respons nilai tukar tetap bergantung pada berbagai faktor domestik dan eksternal.

Data PPI AS Jadi Penentu Perhatian Berikutnya

Selain agenda pertemuan The Fed, investor juga menantikan rilis indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS untuk September 2026.

Data PPI menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk mengukur perubahan harga di tingkat produsen. Pergerakannya dapat memberikan gambaran tambahan mengenai tekanan biaya dalam perekonomian AS.

Pada Agustus 2026, PPI AS meningkat 0,4 persen secara bulanan. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 5,4 persen, lebih tinggi dibandingkan 4,8 persen pada Juli.

Jika data terbaru menunjukkan tekanan harga produsen masih kuat, kekhawatiran terhadap inflasi dapat kembali meningkat. Kondisi itu berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Sebaliknya, perlambatan kenaikan harga produsen dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai kembali prospek kebijakan suku bunga AS.

Dengan demikian, pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen inflasi, arah dolar AS, dan ekspektasi kebijakan The Fed. Investor perlu mencermati perkembangan indikator ekonomi tersebut untuk membaca potensi pergerakan nilai tukar selanjutnya.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru