Rupiah Tembus Rp17.992 per Dolar AS, Kebijakan Trump dan Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan
Rupiah menguat 54 poin ke Rp17.992 per dolar AS pada 20 Oktober 2026. Kebijakan Trump, konflik geopolitik, dan The Fed menjadi sorotan.
Nusantaraterkini.co,ย JAKARTA โ Nilai tukar rupiah berhasil kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026). Mata uang Garuda naik 54 poin atau 0,30% ke level Rp17.992 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.046 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi di tengah dinamika kebijakan perdagangan Washington, perkembangan konflik geopolitik, serta ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait penerapan sanksi dan tarif terhadap Rusia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, Ibrahim menjelaskan bahwa perintah eksekutif yang diterbitkan Trump pada Jumat (16/10/2026) memberikan pengecualian terhadap sejumlah ketentuan sanksi dan bea berdasarkan undang-undang baru terkait Rusia.
Dokumen resmi Gedung Putih menunjukkan bahwa Trump mengesampingkan penerapan sejumlah ketentuan sanksi dan tarif dengan alasan kepentingan nasional AS. Namun, kebijakan tersebut juga memuat ketentuan kenaikan tarif hingga 500% terhadap barang dari Rusia dan tarif tambahan 100% terhadap barang dari negara tertentu yang membeli minyak atau gas Rusia. Karena itu, kebijakan tersebut tidak dapat diartikan sebagai pencabutan seluruh sanksi AS terhadap Rusia.ย
Konflik Geopolitik Masih Membayangi Rupiah
Selain kebijakan perdagangan AS, perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan.
Ibrahim menyoroti ketegangan yang melibatkan kelompok Ansarullah atau Houthi di Yaman dan Arab Saudi. Situasi tersebut dinilai meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta potensi gangguan pasokan energi global.
Menurut dia, risiko geopolitik yang meningkat dapat menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap negara pengimpor minyak, termasuk melalui peningkatan biaya energi dan kebutuhan valuta asing.
Bagi Indonesia, perubahan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi neraca perdagangan, beban subsidi energi, dan kebutuhan pembiayaan impor.
Meski demikian, pergerakan harga minyak dan nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh konflik geopolitik, tetapi juga dipengaruhi permintaan global, pasokan, serta ekspektasi kebijakan moneter.
Sikap The Fed Jadi Perhatian Investor
Faktor lain yang berpotensi memengaruhi rupiah adalah arah kebijakan suku bunga The Fed. Investor masih mencermati perkembangan inflasi AS dan pernyataan para pejabat bank sentral tersebut menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Ketua The Fed Kevin Warsh, saat berbicara dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada Jumat (16/10/2026), tidak memberikan kepastian mengenai keputusan suku bunga berikutnya. Ia menegaskan bahwa keputusan akan ditentukan berdasarkan perkembangan ekonomi dan tidak ingin mendahului hasil rapat.
Rapat FOMC dijadwalkan berlangsung pada 27โ28 Oktober 2026. Survei Reuters yang dilakukan pada 16โ20 Oktober terhadap 100 ekonom menunjukkan bahwa 94 responden memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, mayoritas responden memperkirakan kenaikan suku bunga kembali terjadi pada Desember.
Ekspektasi tersebut penting bagi pasar valuta asing. Suku bunga AS yang bertahan tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, apabila tekanan terhadap dolar berkurang dan sentimen global membaik, rupiah berpeluang memperoleh dukungan. Namun, arah pergerakannya tetap bergantung pada kombinasi faktor eksternal dan kondisi ekonomi domestik.
Investor Perlu Mencermati Pergerakan Berikutnya
Penguatan rupiah ke bawah level Rp18.000 per dolar AS menjadi perkembangan positif dalam perdagangan Selasa. Meski begitu, kenaikan sebesar 0,30% tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik telah berakhir.
Pelaku pasar masih perlu memantau perkembangan kebijakan perdagangan AS, konflik geopolitik, harga energi, serta hasil pertemuan The Fed pada akhir Oktober.
Selain itu, perkembangan inflasi, kebijakan Bank Indonesia, dan arus modal asing juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah selanjutnya.
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, pergerakan nilai tukar diperkirakan tetap sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Oleh sebab itu, penguatan rupiah pada perdagangan Selasa perlu dilihat sebagai perkembangan harian, bukan jaminan bahwa tren penguatan akan berlanjut.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSRobert Kardinal Dukung Kapolri Usut Dugaan Keterlibatan Asing dalam Kasus Karhutla
hendra·9 menit yang lalu -
NEWSPuluhan Siswa di Cirebon Diduga Keracunan Usai Santap MBG, BGN Suspend Dapur Penyedia
hendra·38 menit yang lalu -
NEWSDaniel Johan Desak Evaluasi Menyeluruh Usai Lima Petugas dan Relawan Tewas dalam Karhutla Bromo
hendra·54 menit yang lalu -
EKONOMIRupiah Tembus Rp17.992 per Dolar AS, Kebijakan Trump dan Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan
hendra·1 jam yang lalu -
NEWSPemerintah Hormati Aksi Greenpeace dan Tegaskan Komitmen Penanganan Krisis Iklim
hendra·1 jam yang lalu -
NEWSKetua DPD RI Sultan Najamudin: Koperasi Desa Merah Putih Jadi Motor Ekonomi dan Kesejahteraan Desa
hendra·2 jam yang lalu -
-
NEWSSaadiah Uluputty Peringatkan Bahaya Sawitisasi Lahan Bekas Karhutla, Ekosistem Terancam Rusak
hendra·2 jam yang lalu -
-
Semua berita sudah ditampilkan