Amazon Brasil Kini Lepaskan Lebih Banyak Karbon, Terancam Kehilangan Fungsi Pengatur Iklim
Riset ungkap Amazon Brasil lepas 1,17 miliar ton karbon per tahun akibat kebakaran dan deforestasi
Nusantaraterkini.co, SAO PAULO - Pada periode 2010-2024, Amazon di Brasil melepaskan karbon dioksida rata-rata 1,17 miliar ton per tahun lebih banyak daripada yang diserapnya, menurut penelitian yang diterbitkan oleh Sao Paulo Research Foundation, pada Kamis (22/10/2026).
Ketidakseimbangan tersebut turut memperparah pemanasan global dan mengikis peran hutan hujan itu sebagai pengatur iklim tropis paling penting di planet ini.
Penelitian tersebut, yang juga diterbitkan dalam jurnal ilmiah Inggris Nature, menunjukkan bahwa kebakaran melepaskan sekitar 1,47 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya, dibandingkan dengan kapasitas penyerapan yang hanya sekitar 300 juta ton per tahun.
Penelitian yang dipimpin oleh para spesialis dari Institut Nasional Riset Antariksa Brasil (INPE) itu mengungkapkan, mengurangi kebakaran secara drastis, menghentikan deforestasi, dan memulihkan hutan sangat penting untuk mencegah Amazon mencapai "titik kritis" (tipping point), yaitu ambang batas yang jika terlampaui akan membuat hutan tersebut kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan diri dan pulih sebagai hutan hujan tropis.
Brasil sendiri menaungi 60 persen hutan hujan Amazon.
"Kesimpulan utama dari penelitian ini sangat mengejutkan: masalah di Amazon adalah aktivitas manusia. Kita kehilangan hutan hujan karena model pembangunan di kawasan itu selama ini didasarkan pada perusakan," ujar Luciana Vanni Gatti, koordinator Laboratorium Gas Rumah Kaca di INPE sekaligus penulis utama penelitian tersebut.
Dalam sebuah analisis yang mencakup periode 46 tahun, tim peneliti juga mendeteksi kenaikan suhu rata-rata tahunan sebesar 1,13 derajat Celsius dan 1,81 derajat selama musim kemarau. Perubahan-perubahan ini menurunkan kelembapan regional dan memperburuk kondisi yang memicu penyebaran kebakaran serta degradasi lingkungan.
"Hal ini memberikan tekanan yang sangat besar pada hutan yang tersisa," kata Gatti.
Dia juga menjelaskan bahwa hilangnya tutupan hutan mengurangi curah hujan dan meningkatkan suhu, sehingga menciptakan siklus umpan balik yang memicu lebih banyak kebakaran dan mempercepat kerusakan hutan yang tersisa.
Para ilmuwan sedang menyelidiki alasan mengapa hutan hujan semakin sedikit menyerap karbon, dan sejauh mana fenomena ini didorong oleh penurunan fotosintesis versus peningkatan dekomposisi vegetasi.
Sao Paulo Research Foundation meyakini bahwa hasil-hasil ini semakin memperkuat pentingnya kebijakan konservasi dan restorasi bagi Amazon Brasil, yang perannya dalam penyimpanan karbon dan pengaturan siklus air menjadi kunci bagi keseimbangan iklim regional dan global.
(*/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWS VIDEODorong UMKM Naik Kelas, Kemenparekraf Bersama Komisi VII DPR RI Perkuat Ekosistem Creative Hub Simalungun
Fadli Tara·6 menit yang lalu -
SUMSELPemkot Palembang Terima Dana Rp10 Miliar untuk Penanganan Karhutla dan Asap
Rozie Winata·24 menit yang lalu -
SUMSELBMKG Ungkap Penyebab Hujan Ringan di Palembang: Hasil Dinamika Atmosfer dan OMC
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALKawal Indonesia Emas 2045, Lemhannas RI Ajak Insan Pers Bangun Jurnalisme Kebangsaan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALCekcok Berujung Maut, Polres Muratara Tangkap Satu Pelaku Pengeroyokan di Rawas Ilir
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SEPAKBOLALaga Liverpool vs Brighton Terancam Ditunda Akibat Cuaca Buruk
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
PERISTIWAPicu Tabrakan Beruntun usai Tabrak Lari, Pengemudi Mobil Denza Tersangka
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALGerebek Sarang Narkoba di Medan Maimun,15 Orang Positif Narkotika Diciduk Polda Sumut
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SEPAKBOLAPSPS Riau Menang 3-2 atas Persikad Depok Lewat Gol Menit Akhir
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPolres Padangsidimpuan Sita 36,23 Kilogram Ganja dan 502,47 Gram Sabu dalam Sebulan
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan