Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Menguat ke Rp17.860 per Dolar AS, BI Siap Intervensi Lebih Agresif

Rupiah menguat ke Rp17.860 per dolar AS pada 12 Oktober 2026. BI siapkan intervensi lebih agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/10/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS, meskipun ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik masih membayangi pasar keuangan.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah menguat 0,08 persen ke level Rp17.860 per dolar AS pada awal perdagangan.

Pergerakan positif tersebut melanjutkan tren penguatan pada akhir pekan lalu. Pada Jumat (9/10/2026), rupiah ditutup naik 0,08 persen ke posisi Rp17.875 per dolar AS. Namun, penguatan pada perdagangan tersebut menyusut dibandingkan posisi pembukaan yang sempat terapresiasi 0,20 persen ke level Rp17.855 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, melemah 0,12 persen ke posisi 102,130 pada pukul 09.00 WIB.

Pelemahan DXY memberikan peluang bagi rupiah untuk mempertahankan penguatannya. Meski demikian, indeks dolar yang masih berada di atas level 102 menunjukkan bahwa mata uang AS tetap memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian pasar global.

BI Siapkan Intervensi untuk Menjaga Rupiah

Di tengah dinamika tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapannya memperkuat langkah intervensi apabila tekanan eksternal kembali meningkat dan mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral dapat mengambil langkah intervensi yang lebih tegas sesuai kebutuhan untuk meredam gejolak di pasar valuta asing.

"Kalau memang perlu kita intervensi lebih bold, ya kita akan lakukan intervensi lebih bold, karena sekarang kalau kami lihat, memang sumber utama dari gejolak ini emang lebih di global banyaknya," ujar Destry dalam program Central Banking CNBC Indonesia, sebagaimana dikutip pada Jumat (9/10/2026).

Menurut Destry, perkembangan global masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ketegangan di Timur Tengah, misalnya, berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Karena itu, BI terus mencermati perkembangan pasar sekaligus menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Surplus Perdagangan Jadi Penopang Ekonomi Domestik

Meski menghadapi tekanan eksternal, Destry menilai kondisi perekonomian Indonesia relatif lebih terkendali. Salah satu faktor pendukungnya adalah neraca perdagangan yang mencatat surplus sebesar US$3,3 miliar.

Surplus tersebut mencerminkan nilai ekspor yang melampaui impor. Destry menjelaskan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas turut mendorong kinerja ekspor Indonesia dan mendukung neraca perdagangan.

"Di domestik kita relatif udah lebih manageable. Contohnya neraca perdagangan, kita sempat surplus sampai US$3,3 miliar, ini suatu lompatan yang besar, tapi sebenarnya juga sudah di-expect, karena ada kenaikan harga komoditas yang cukup besar, sehingga itu mendorong ekspor-ekspor komoditas kita juga," jelasnya.

Kondisi perdagangan tersebut menjadi salah satu penopang bagi ketahanan eksternal Indonesia. Namun, pergerakan rupiah tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari arah kebijakan moneter AS hingga perkembangan harga energi dan arus modal global.

BI Pantau Pergerakan Mata Uang Asia

Selain memantau dolar AS, BI juga memperhatikan pergerakan mata uang negara-negara di kawasan Asia yang memiliki karakteristik ekonomi relatif serupa dengan Indonesia.

Destry menyebut peso Filipina dan baht Thailand sebagai dua mata uang yang turut menjadi pembanding dalam membaca perkembangan pasar regional.

"Selain itu, akhirnya semua pada lihat satu negara dengan negara lain. Kita akhirnya melihat kondisi mata uang yang lain gimana ya? Misal peso Filipina gimana? Baht Thailand gimana? Jadi paling enggak negara yang kurang lebih karakternya sama dengan kita," kata Destry.

Perbandingan tersebut menjadi bagian dari pemantauan BI terhadap dinamika nilai tukar di kawasan. Pergerakan mata uang regional dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh sentimen global terhadap negara-negara dengan karakteristik ekonomi yang relatif sebanding.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada awal perdagangan Senin menjadi perkembangan positif bagi pasar domestik. Namun, keberlanjutan penguatan tersebut masih akan bergantung pada pergerakan dolar AS, perkembangan konflik di Timur Tengah, harga komoditas, serta respons kebijakan bank sentral terhadap gejolak pasar global.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait