Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Nilai Tukar Rupiah Turun 0,16% Bersandar di Posisi Rp16.306 Per Dolar AS Pagi Ini

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
nilai tukar rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 16.306 per dolar AS, turun 0,16% dari penutupan Senin (11/8) di Rp 16.280 per dolar AS.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (12/8/2025) pagi nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg pukul 09.31 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 16.306 per dolar AS, turun 0,16% dari penutupan Senin (11/8) di Rp 16.280 per dolar AS.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Telah Menguat Sebesar 1,35% Selama Sepekan

Dolar AS bergerak stabil hari ini, dengan pelaku pasar menunggu rilis data inflasi konsumen (CPI) AS yang dinilai krusial dalam membentuk ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama termasuk euro dan yen, berada di level 98,497 pada pukul 00.46 GMT, setelah menguat 0,5% dalam dua sesi terakhir.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Tampil Perkasa Ditutup di Level Rp16.293 Per Dolar AS

Sebelumnya, dolar sempat tertekan menyusul kabar bahwa calon pengganti anggota Dewan Gubernur The Fed pilihan Presiden AS Donald Trump dinilai cenderung dovish.

Begitu pula kandidat ketua Fed yang disebut memiliki pandangan serupa. Kondisi ini mendorong pasar meningkatkan taruhan pemangkasan suku bunga.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,21% Bertengger di Level Rp16.321 Per Dolar AS Pagi Ini

Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed belakangan mengungkapkan kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja, sehingga membuka peluang pemangkasan suku bunga sedini September.

Inflasi yang melemah berpotensi memperkuat ekspektasi pemangkasan bulan depan.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,21% Bertengger di Level Rp16.321 Per Dolar AS Pagi Ini

Namun, jika tarif impor tinggi yang diberlakukan Trump justru memicu tekanan harga, The Fed kemungkinan akan menahan diri.

Saat ini, pasar memperkirakan peluang pemangkasan 25 basis poin pada 17 September mencapai 89%.

"Menjelang rilis CPI AS minggu ini, risiko terbesar adalah dolar AS menguat tipis jika inflasi naik di luar perkiraan. Hal itu akan menantang ekspektasi pasar yang hampir sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga September," tulis analis TD Securities dilansir dari Reuters.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat 0,46% Bertengger di Level Rp16.287 Per Dolar AS

"Sebaliknya, kejutan penurunan inflasi tidak akan banyak mengubah ekspektasi pasar maupun pergerakan dolar AS. Pemangkasan 50 basis poin baru akan dipertimbangkan Fed jika pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut, bukan hanya karena CPI yang lebih rendah," lanjutnya.

Survei Reuters memperkirakan CPI inti AS naik 0,3% pada Juli, mendorong inflasi tahunan ke 3%.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Terus Melaju Berada di Level Rp16.308 Per Dolar AS Siang Ini

Pada Selasa pagi, dolar AS menguat 0,1% menjadi 148,28 yen, sementara euro stagnan di US$1,1615.

Sehari sebelumnya, dolar AS relatif tak bergerak setelah Trump menandatangani perpanjangan 90 hari penangguhan tarif tinggi atas impor China, langkah yang sudah diantisipasi pasar.

Analis Pasar: nilai tukar rupiah Diperkirakan akan Bergerak Berfluktuatif

Pada cenderung melemah perdagangan Selasa (12/8/2025) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan bergerak fluktuatif di pasar spot.

Hari ini nilai tukar rupiah diperkirakan akan berbalik arah usai mengawali pekan ini dengan penguatan 

Mengutip Bloomberg, rupiah spot menguat 0,08% ke level Rp 16.280 per dolar AS pada perdagangan Senin, (11/8/2025).

Sedangkan mengacu Jisdor BI, rupiah juga menguat 0,08% ke level Rp 16.299 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi melihat, penguatan rupiah mengikuti pelemahan dolar AS yang dipicu sentimen ‘gencatan senjata’ tarif AS-Tiongkok.

"Tarif yang mengendalikan peningkatan bea masuk, akan berakhir pada 12 Agustus," katanya.

Meskipun pasar berharap gencatan senjata ini akan diperpanjang, ketidakpastian mengenai hasilnya masih berlanjut.

Lebih lanjut, Ibrahim mencermati lonjakan ekspor Tiongkok minggu lalu sebesar 7,2% year-on-year untuk bulan Juli, menunjukkan para eksportir bergegas mengirimkan barang sebelum potensi tarif baru.

"Selain itu, AS menerapkan tarif timbal balik baru pada 7 Agustus, yang menargetkan barang-barang dari negara-negara dengan bea masuk hingga 50%," imbuhnya.

Pada perdagangan Selasa (12/8/2025), Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 16.270 - Rp 16.320.