Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Melemah ke Rp16.803, Dolar AS Menguat di Tengah Sentimen Global dan Isu MSCI

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan Jumat (30/1/2026) dengan tekanan. Rupiah terpantau melemah ke level Rp16.803 per dolar AS, seiring penguatan mata uang AS di pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.14 WIB, rupiah tercatat turun 48 basis poin atau 0,29%. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,18% ke posisi 96,46, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi seiring pelemahan mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang turun 0,42%, won Korea Selatan melemah 0,34%, baht Thailand terdepresiasi 0,52%, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,22%. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing melemah 0,03% dan 0,22%. Peso Filipina turun 0,07%, rupee India melemah 0,19%. Di tengah tekanan regional tersebut, yuan China justru mencatat penguatan tipis 0,04% terhadap dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Februari, Bayang-bayang Dolar Masih Membatasi

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi bergerak melemah hari ini. Sentimen negatif dari pasar saham domestik, khususnya terkait pengumuman MSCI, dinilai belum sepenuhnya mereda.

“Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS,” ujar Lukman.

Sementara itu, Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik sebagai faktor tambahan pelemahan rupiah. Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer besar terhadap Iran setelah perundingan nuklir kembali menemui jalan buntu.

Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760

Trump disebut menimbang serangan udara yang menyasar pejabat dan pemimpin keamanan Iran, serta kemungkinan eskalasi ke fasilitas nuklir. Jika langkah ini direalisasikan, ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkat tajam dan mendorong penguatan dolar AS.

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% melalui voting 10 banding 2. Dua gubernur The Fed, Stephen Miran dan Christopher Waller, memilih pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan kebijakan moneter tetap berbasis data dan akan dievaluasi secara berkala. Ia menilai pasar tenaga kerja relatif stabil, meski inflasi masih berada di level yang cukup tinggi. Powell juga memperkirakan inflasi inti (PCE inti) mendekati 3% dan berpotensi mencapai puncaknya pada pertengahan tahun.

Baca Juga : Rial Iran Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Krisis Ekonomi Makin Memanas

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut datang dari sentimen pasar modal. Goldman Sachs Group Inc menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, seiring kekhawatiran MSCI Inc terhadap kelayakan pasar saham Indonesia. Jika status Indonesia turun menjadi pasar frontier, potensi arus keluar dana diperkirakan bisa melampaui US$13 miliar.

Dalam skenario terburuk, dana pasif berbasis indeks MSCI berpotensi melepas saham hingga US$7,8 miliar. Selain itu, arus keluar tambahan sekitar US$5,6 miliar bisa terjadi jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float Indonesia.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS.

Baca Juga : Dolar AS Bangkit Tipis Usai Tertekan Mata Uang Global

(Dra/nusantaraterkini.co).