Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Menguat Tipis di Awal Februari, Bayang-bayang Dolar Masih Membatasi

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pekan pertama Februari 2026 dengan penguatan terbatas. Di pasar spot, rupiah pada Senin (2/2/2026) tercatat naik tipis 0,1% ke level Rp16.768 per dolar AS.

Penguatan yang relatif sempit ini terjadi di tengah kembalinya tekanan dari dolar Amerika Serikat. Indeks dolar AS terpantau menguat sekitar 0,2% ke level 97,185, setelah pada pekan sebelumnya bergerak volatil dan secara mingguan masih melemah 0,62% ke 96,991.

Rebound dolar tersebut membuat pergerakan mata uang Asia cenderung tertahan. Sejumlah mata uang kawasan bergerak lesu, meski belum seluruhnya tertekan ke zona negatif.

Baca Juga : Rupiah Melemah ke Rp16.803, Dolar AS Menguat di Tengah Sentimen Global dan Isu MSCI

Dari kawasan regional, sentimen kembali dibebani oleh data ekonomi China. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur China pada Januari tercatat turun ke 49,3, dari sebelumnya 50,1 pada Desember, sekaligus berada jauh di bawah konsensus pasar 50,3. Angka ini menandakan aktivitas manufaktur kembali masuk zona kontraksi.

Melemahnya pasokan serta anjloknya permintaan mengindikasikan tekanan pada ekonomi terbesar kedua dunia tersebut. Bagi pasar Asia, perlambatan China kerap menjadi sinyal negatif, mengingat peran negara itu sebagai motor utama permintaan regional.

Tekanan global juga datang dari Jepang. Data terbaru menunjukkan perlambatan inflasi dan lemahnya belanja konsumen. Indeks harga konsumen inti (tidak termasuk makanan segar) di kota besar Jepang naik 2% secara tahunan (yoy) pada Januari, lebih rendah dari perkiraan median ekonom 2,2%, dan turun dari 2,3% pada bulan sebelumnya.

Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760

Secara keseluruhan, inflasi Jepang melambat ke 1,5%, turun di bawah ambang 2% untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Pada saat yang sama, penjualan ritel Jepang terkontraksi 2% pada Desember, memburuk dibanding penurunan 0,9% yoy sebelumnya. Kondisi ini turut memicu kekhawatiran publik terhadap kenaikan biaya hidup, menjelang pemilu nasional Jepang pada 8 Februari 2026.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi arus modal asing. Data Kementerian Keuangan menunjukkan investor global mencatat penjualan bersih surat utang pemerintah Indonesia senilai US$202 juta pada Rabu dan Kamis pekan lalu, menjadi arus keluar dua hari terbesar sejak Oktober.

Aksi jual tersebut memangkas lebih dari separuh arus masuk sepanjang tahun berjalan (ytd) yang kini tersisa sekitar US$147 juta.

Tekanan ini muncul seiring gejolak di pasar saham domestik, setelah indeks sempat mencatat penurunan terdalam sejak Krisis Keuangan Asia. Sentimen negatif dipicu peringatan MSCI Inc. terkait potensi penurunan status pasar Indonesia menjadi frontier market apabila aspek transparansi tidak menunjukkan perbaikan.

Dampaknya merembet ke berbagai aset keuangan. Rupiah menghentikan reli terpanjangnya sejak Oktober, sementara imbal hasil surat utang negara (SUN) bergerak naik akibat aksi jual.

Yield SUN tenor 10 tahun naik 2,4 basis poin ke 5,01%, diikuti tenor 30 tahun yang naik 2,6 bps ke 5,57%, serta tenor 20 tahun yang menguat 2,1 bps ke 5,58%.

Sejatinya, sentimen terhadap obligasi Indonesia telah rapuh sejak awal tahun. Kekhawatiran investor terkait arah kebijakan fiskal serta isu independensi bank sentral masih membayangi. Di tengah perlambatan ekonomi global, pasar menanti kejelasan kebijakan domestik yang mampu menjadi jangkar kepercayaan, terutama melalui disiplin fiskal, tata kelola yang transparan, dan komitmen kuat menjaga independensi otoritas moneter.

(Dra/nusantaraterkini.co).