Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (8/8/2025) nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Berhasil Menguat 0,61% Dibuka di level Rp16.413 Per Dolar AS
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg pukul 09.09 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp 16.321 per dolar AS, melemah 0,21% dibanding posisi penutupan Kamis (7/8) di Rp 16.287 per dolar AS.
Pelemahan ini sekaligus menghentikan tren penguatan nilai tukar rupiah selama empat hari berturut-turut.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Cenderung Melemah Dipicu Data-data AS dan Hasil FOMC
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tren dolar AS yang justru berada di jalur penurunan mingguan.
Indeks dolar tercatat 98,04 pada perdagangan Jumat pagi, turun hampir 0,7% sepanjang pekan. Yen Jepang bergerak datar di 147,07 per dolar.
Pelemahan dolar AS dipicu ekspektasi pasar terhadap calon Gubernur Federal Reserve yang lebih dovish setelah Presiden AS Donald Trump menunjuk pengganti sementara untuk kursi yang baru kosong.
Baca Juga : Analis Pasar: Besok, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Melanjutkan Pelemahan Terbatas
Pasar juga mengantisipasi potensi pelonggaran kebijakan moneter menyusul sinyal pelemahan ekonomi AS, terutama di pasar tenaga kerja.
Data CME FedWatch menunjukkan pasar memperkirakan peluang 93% untuk pemangkasan suku bunga pada September, dengan setidaknya dua kali pemangkasan hingga akhir tahun.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,36% di Level Rp16.515 Per Dolar AS Pagi Ini
Adam Grotzinger, Senior Fixed Income Portfolio Manager di Neuberger Berman, bahkan memproyeksikan empat kali pemangkasan suku bunga total 100 basis poin mulai akhir 2025 hingga awal 2026.
Trump menunjuk Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Stephen Miran untuk menggantikan Gubernur The Fed Adriana Kugler yang mengundurkan diri pekan lalu.
Menurut Joseph Capurso, Kepala Ekonomi Internasional Commonwealth Bank of Australia, Miran kemungkinan akan mendorong penurunan suku bunga, tetapi tidak akan memaksakan jika data ekonomi tidak mendukung.
"Bergantung pada penilaian presiden terhadap kinerjanya, Miran juga bisa menjadi kandidat pengganti Jerome Powell saat masa jabatannya berakhir Mei mendatang," ujar Capurso dikutip dari Reuters.
Trump, yang kerap mengkritik Powell karena enggan menurunkan suku bunga, kini mempercepat pencarian penggantinya.
Bloomberg melaporkan Gubernur The Fed Christopher Waller menjadi kandidat terkuat untuk posisi Ketua The Fed berikutnya.
