Nusantaraterkini.co, LIBYA - Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas setelah ditembak di kota Zintan, Libya bagian barat. Kabar tersebut mencuat pada Selasa (3/2/2026) waktu setempat.
Informasi awal disampaikan koresponden Al Jazeera Arabic, Ahmed Khalifa, yang menyebut Saif al-Islam meninggal dunia di wilayah yang selama hampir satu dekade terakhir menjadi tempat persembunyiannya. Konfirmasi kematian juga disampaikan penasihat politiknya, Abdullah Othman. Hingga kini, detail pelaku dan motif penembakan masih belum diungkap secara resmi.
Menanggapi insiden tersebut, Khaled al-Mishri—mantan Ketua Dewan Tinggi Negara Libya yang berbasis di Tripoli—mendesak dilakukan penyelidikan menyeluruh, independen, dan transparan untuk mengungkap fakta di balik kematian tokoh kontroversial itu.
Baca Juga : Trump Ingin Rebut Lagi Pangkalan Udara Bagram, Singgung Ancaman China
Sosok Kunci di Balik Rezim Gaddafi
Meski tak pernah menduduki jabatan formal, Saif al-Islam kerap disebut sebagai figur paling berpengaruh kedua di Libya setelah ayahnya, terutama pada periode 2000–2011. Ia dikenal sebagai wajah “reformis” rezim Gaddafi—berpendidikan Barat, fasih berbicara, dan aktif membangun kembali hubungan Libya dengan negara-negara Barat.
Ia meraih gelar doktor dari London School of Economics (LSE) pada 2008, dengan disertasi yang membahas peran masyarakat sipil dalam reformasi tata kelola global. Namun citra intelektual tersebut runtuh seiring meletusnya Arab Spring di Libya.
Baca Juga : PBB: Sindikat Online Scam di Asia Raup Untung Rp657 Triliun Setiap Tahun
Dalam masa pemberontakan 2011, Saif al-Islam tampil dengan pernyataan keras, memperingatkan kemungkinan perang berkepanjangan dan kehancuran nasional. Pernyataannya kala itu menjadi simbol sikap keras rezim terhadap oposisi.
Tuduhan Kejahatan Perang
Setelah jatuhnya Tripoli, Saif al-Islam ditangkap di Zintan pada 2011 saat berusaha melarikan diri. Ia menghadapi berbagai tuduhan serius, termasuk penyiksaan dan kekerasan terhadap demonstran. Namanya masuk daftar sanksi PBB dan menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Baca Juga : Penandatanganan Pakta Pertahanan Putin dan Kim Jong Un, Teguh Santosa: Tandai Era Baru Hubungan Korut-Rusia
Pengadilan di Tripoli menjatuhkan vonis hukuman mati secara in absentia pada 2015. Meski kemudian dibebaskan pada 2017 lewat pengampunan umum, ia tetap hidup dalam bayang-bayang ancaman pembunuhan dan konflik politik Libya yang tak kunjung reda.
Analis Libya, Mustafa Fetouri, menyebut sejak 2016 Saif al-Islam mulai kembali menjalin komunikasi terbatas dengan sejumlah aktor politik, baik di dalam maupun luar negeri—sebuah langkah yang kembali menempatkannya di pusat dinamika politik Libya.
Kematian Saif al-Islam Gaddafi kini berpotensi membuka babak baru ketegangan di Libya, negara yang hingga hari ini masih bergulat dengan perpecahan dan instabilitas pascajatuhnya rezim Gaddafi.
Baca Juga : Penelitian Internasional Ungkap Menyusutnya Tutupan Awan Perburuk Pemanasan Global
(Dra/nusantaraterkini.co).
