Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada Kamis (7/8/2025) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 0,46% dibanding pada penutupan perdagangan hari sebelumnya ke level Rp 16.287 per dolar AS di pasar spot.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Cenderung Melemah Dipicu Data-data AS dan Hasil FOMC
Sedangkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah ditutup menguat 0,40% ke level Rp 16.312 per dolar AS.
Sementara, pada perdagangan tengah hari ini. Kamis (7/8/2025) nilai tukar rupiah terus melaju rupiah berada di level Rp 16.308 per dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga : Analis Pasar: Besok, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Melanjutkan Pelemahan Terbatas
Ini membuat nilai tukar rupiah menguat 0,33% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.362 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah sejalan dengan hampir seluruh mata uang di Asia.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,36% di Level Rp16.515 Per Dolar AS Pagi Ini
Hingga pukul 12.01 WIB, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,47%. Disusul, peso Filipina yang menanjak 0,42%.
Selanjutnya ada baht Thailand yang naik 0,18% dan won Korea Selatan yang terkerek 0,17%. Lalu ada dolar Singapura yang terapresiasi 0,13%.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,36% di Level Rp16.515 Per Dolar AS Pagi Ini
Berikutnya, yen Jepang terlihat terangkat 0,05% dan yuan China pun naik 0,04%. Diikuti, rupee India yang terkerek 0,02%.
Kemudian ada dolar Hongkong yang terlihat menguat tipis 0,006% terhadap the greenback.
Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang melemah setelah turun 0,01% di siang ini.
Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah di antaranya terkait kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS akan mengenakan tarif 100% pada semikonduktor impor dari negara-negara tertentu kecuali mereka berinvestasi dalam manufaktur chip Amerika.
Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dalam negeri tetapi memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut pada rantai pasokan global dan inflasi yang lebih tinggi.
Trump juga menandatangani perintah, menggandakan tarif AS untuk impor dari India menjadi 50%, dengan alasan pembelian minyak Rusia oleh negara tersebut.
"Dalam sebuah unggahan di Truth Social Rabu malam, Trump mengatakan tarif timbal balik akan berlaku pada tengah malam, membuat investor tetap waspada," ujar Ibrahim
Sementara itu, dari sentimen dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia menurun.
Pada akhir Juli 2025 cadangan devisa RI sebesar USD152,0 miliar, menurun tipis dari posisi pada akhir Juni 2025 yang sebesar US$ 152,6 miliar.
Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Langkah ini merupakan respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Ibrahim memproyeksikan rupiah besok bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp 16.230 - Rp.16.290 per dolar AS.
