Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Bitcoin Terjatuh 2,18% Bersandar di Level US$113.329 Per Koin Setelah Mencetak Rekor Tertinggi

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga bitcoin koreksi terjadi hanya beberapa hari setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi baru di US$124.176, sehingga memunculkan pertanyaan apakah tren bullish sudah berakhir di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (20/8/2025) Harga Bitcoin (BTC) kembali anjlok di bawah level US$113.000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua pekan. 

Penurunan harga bitcoin ini mengejutkan pasar kripto dan memicu likuidasi posisi long berleverage senilai US$113 juta.

Baca Juga : Harga Bitcoin (BTC) Kembali Cetak Rekor Baru Mendekati US$115.000 Picu Gelombang Optimisme di Kalangan Investor

Berdasarkan data yang dilansir dari Cointelegraph, harga bitcoin koreksi terjadi hanya beberapa hari setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi baru di US$124.176, sehingga memunculkan pertanyaan apakah tren bullish sudah berakhir di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga : Harga Bitcoin Tembus US$107.000 Mendekati Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Sebagai informasi, mengutip data Coinmarketcap Rabu (20/8/2025) harga Bitcoin ke US$113.329 atau terkoreksi 2,18% dalam 24 jam terakhir.

Faktor Pemicu: Investigasi SEC dan Kekecewaan di Sektor AI

Aksi jual semakin dalam setelah muncul laporan bahwa Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat tengah menyelidiki dugaan penipuan dan manipulasi saham di Alt5 Sigma, perusahaan yang baru saja bermitra dengan World Liberty Financial milik Donald Trump dalam kesepakatan senilai US$1,5 miliar.

Baca Juga : Harga Bitcoin Bergerak Sideways Bertengger di Level US$103.957

World Liberty, yang menampilkan Trump sebagai "co-founder emeritus" di situs resminya, telah menggalang dana sekitar US$550 juta lewat dua penawaran token publik.

Pada Juni lalu, Trump mengungkapkan meraup US$57,4 juta dari kepemilikannya di perusahaan tersebut, sementara Eric Trump dijadwalkan masuk ke jajaran direksi Alt5 Sigma.

Baca Juga : Harga Bitcoin Kembali Bangkit Tembus US$ 100.000 Naik 5,86% dalam Sepekan

Pasar kripto juga terbebani oleh pelemahan Nasdaq 100 sebesar 1,5%. Tekanan terjadi usai riset MIT NANDA menemukan bahwa 95% dari 300 proyek kecerdasan buatan (AI) korporasi gagal menghasilkan pertumbuhan pendapatan signifikan.

Baca Juga : Harga Bitcoin (BTC) Nyaris Menyentuh Level Psikologis US$106.000 Memicu Kekhawatiran Koreksi Lanjutan

Tarif Impor AS dan Kekhawatiran terhadap The Fed

Sentimen negatif makin dalam setelah AS memberlakukan tarif impor 50% terhadap 407 produk tambahan berbasis aluminium dan baja, mulai dari suku cadang mobil hingga bahan kimia khusus.

Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok serta lonjakan harga konsumen.

UBS bahkan menaikkan proyeksi harga emas ke US$3.700 pada September 2026, didorong ekspektasi pelemahan dolar, pelonggaran kebijakan The Fed, serta kekhawatiran defisit fiskal AS. Hal ini menambah aliran modal keluar dari aset berisiko termasuk kripto.

Pasar Derivatif Kripto Menunjukkan Ketakutan Ekstrem

Data pasar derivatif menunjukkan lonjakan permintaan proteksi downside. Skew opsi Bitcoin 30 hari (put-call delta) melonjak ke 12%, level tertinggi dalam lebih dari empat bulan.

Biasanya, indikator ini bergerak di kisaran -6% hingga +6%, sehingga angka di atas 10% menandakan ketakutan ekstrem.

Kondisi serupa terakhir terjadi pada April lalu, saat BTC turun di bawah US$74.500 sebelum akhirnya pulih 40% dalam sebulan.

Meski tekanan jangka pendek meningkat, analis menilai tidak ada bukti bahwa tren bull Bitcoin sudah berakhir. Ketakutan investor sering kali berlebihan dibanding realitas pasar.

Bahkan, Bitcoin bisa mendapat dorongan dari potensi arus keluar modal di pasar saham, sehingga turbulensi saat ini masih dianggap bagian dari konsolidasi dalam tren bullish jangka panjang.