Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Senin (12/5/2025) Harga Bitcoin (BTC) nyaris menyentuh level psikologis US$106.000 namun aksi ambil untung menekan harga kembali ke kisaran US$101.400, memicu kekhawatiran koreksi lanjutan sebelum BTC mencetak rekor tertinggi baru.
BACA: Daftar Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Selasa (13/5/2025) Produk Antam, Galeri 24 dan UBS
Data dari platform analitik Alphractal menunjukkan bahwa level US$106.000 berpotensi menjadi area ambil untung (profit-taking zone), terutama oleh pemegang jangka panjang dan whale yang melihat peluang likuidasi di area tersebut.
Baca Juga : Hong Kong Bersiap Terapkan Pajak Kripto Global 2028, Adopsi Standar OECD
Melansir laman Cointelegraph, CEO Alphractal Joao Wedson menyebut BTC kini berada di zona "Alpha Price", titik penting di mana tekanan jual meningkat.
BACA: Harga Bitcoin Kembali Bangkit Tembus US$ 100.000 Naik 5,86% dalam Sepekan
Secara teknikal, BTC sempat bergerak dalam pola kanal naik (ascending channel) di chart jangka pendek, namun terjadi breakout ke bawah yang menunjukkan melemahnya momentum bullish.
Baca Juga : Jaringan Restoran AS Steak n Shake Borong Bitcoin Senilai Rp150 Miliar
Tekanan koreksi juga dipicu oleh potensi long squeeze, mengingat lebih dari US$3,4 miliar posisi long dengan leverage berisiko terlikuidasi jika harga menembus ke bawah US$100.000.
Zona ini menjadi titik tarik harga berikutnya, terutama menjelang rilis data inflasi AS.
CPI AS Jadi Katalis Krusial
Baca Juga : Harga Bitcoin Terjatuh 2,18% Bersandar di Level US$113.329 Per Koin Setelah Mencetak Rekor Tertinggi
Para trader mulai melakukan de-risking menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada 13 Mei.
Data CPI bulan April diperkirakan stagnan di 2,4%, sama seperti bulan sebelumnya, di tengah harga energi yang stabil dan pertumbuhan upah yang moderat.
CPI yang lebih rendah dari perkiraan bisa menjadi katalis positif bagi Bitcoin dan aset berisiko lainnya, memberi sinyal bahwa The Fed bisa memangkas suku bunga pada 2025.
Sebaliknya, CPI yang lebih tinggi dari ekspektasi akan memperkuat dolar dan memberi tekanan pada BTC.
Zona Krusial Koreksi BTC
Jika tekanan jual masih berlanjut pasca rilis CPI, zona teknikal yang menjadi perhatian utama berada di rentang US$100.500–US$99.700, area fair value gap (FVG) di grafik empat jam.
FVG kedua teridentifikasi antara US$98.680–US$97.363, yang berarti potensi koreksi 8% dari level tertinggi baru-baru ini.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
