Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Tertekan di Awal November, Dolar AS Bertahan di Rp18.149

Rupiah melemah ke Rp18.149 per dolar AS pada awal November 2026. Investor mencermati inflasi Indonesia, data perdagangan, dan arah suku bunga The Fed.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (2/11/2026). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp18.149 per dolar AS, turun tipis dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data pasar spot yang dikutip Antara, rupiah melemah 2 poin atau 0,01 persen dari posisi penutupan Jumat (30/10/2026) sebesar Rp18.147 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut saat memasuki November. Pelaku pasar kini mencermati sejumlah indikator ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan nilai tukar.

Salah satu perhatian investor tertuju pada perkembangan inflasi dan data perdagangan Indonesia. Kedua indikator tersebut menjadi pertimbangan pasar dalam memperkirakan kondisi perekonomian nasional serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Inflasi dan Kebijakan The Fed Jadi Perhatian Pasar

Dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS dan prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) masih menjadi faktor penting bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ekspektasi suku bunga AS yang cenderung tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor mengalihkan sebagian dananya dari pasar negara berkembang menuju instrumen yang dianggap lebih aman.

Di sisi lain, perkembangan inflasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Data ekonomi yang menunjukkan tekanan harga masih bertahan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed ke depan.

Meski demikian, perkembangan terbaru dari dalam negeri menunjukkan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi September 2026 yang mencapai 3,28 persen.

Reuters melaporkan, realisasi inflasi Oktober tersebut juga berada di bawah perkiraan median analis dalam jajak pendapatnya sebesar 3,29 persen.

BI Diandalkan Jaga Stabilitas Rupiah

Di tengah tekanan eksternal, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pelaku pasar.

BI memiliki sejumlah instrumen untuk meredam gejolak rupiah, termasuk intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pengelolaan likuiditas dan cadangan devisa.

Langkah stabilisasi tersebut diperlukan untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian domestik. Pasalnya, kenaikan harga dolar AS dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, hingga barang konsumsi.

Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, kenaikan biaya impor berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa di dalam negeri atau memicu imported inflation.

Karena itu, pergerakan rupiah pada awal November tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, tetapi juga pemerintah dan dunia usaha. Stabilitas nilai tukar diperlukan untuk menjaga kepercayaan investor, mengendalikan tekanan inflasi, serta mempertahankan daya beli masyarakat.

Pelaku pasar kini menantikan perkembangan data ekonomi berikutnya dan respons otoritas moneter terhadap dinamika pasar global. Kedua faktor tersebut diperkirakan turut menentukan arah pergerakan rupiah dalam perdagangan selanjutnya.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait