Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Inflasi Sumsel Tembus 0,44 Persen, Komoditas Pangan jadi Pendorong

Inflasi Sumsel Tembus 0,44 Persen, Komoditas Pangan jadi Pendorong

A A

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Badan Pusat Statistik mencatat wilayah Provinsi mengalami sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month) pada Oktober 2026 yang didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, Senin (2/11/2026).

“Memang harga beras mengalami kenaikan, kemudian komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah juga mengalami kenaikan akibat gagal panen dan faktor cuaca,” ujar Kepala BPS Moh. Wahyu Yulianto saat diwawancarai langsung usai rilis inflasi.

Wahyu mengatakan jika laju tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,28 persen dengan memberikan andil 0,41 persen.

Kenaikan harga beras di pasaran dipengaruhi oleh peningkatan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) serta tingginya persaingan pasokan antardaerah.

“ walaupun menjadi potensi lumbung padi nasional, tapi juga menjadi penyangga untuk provinsi yang lain. Jadi mereka datang ke sini berebut, sehingga pasokan untuk menjadi berasnya agak sedikit terkurang dan menyebabkan kenaikan harga,” terangnya.

Selain beras, komoditas hortikultura turut menyumbang kenaikan harga akibat dipengaruhi faktor cuaca buruk dan kegagalan panen di tingkat petani.

BPS mencatat lima komoditas utama yang menjadi pemicu terbesar inflasi bulanan periode Oktober 2026 meliputi cabai merah, cabai rawit, beras, tomat, dan sawi putih.

Berdasarkan kelompok pengeluaran bulanan, kelompok transportasi menyumbang inflasi 0,26 persen dengan andil 0,03 persen, diikuti kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen dengan andil 0,02 persen.

Sebaliknya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi 0,06 persen dengan andil minus 0,01 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya deflasi 0,30 persen dengan andil minus 0,02 persen.

BPS turut mencatat laju inflasi secara tahun kalender (year to date) hingga Oktober 2026 telah mencapai 2,34 persen, sedangkan inflasi tahunan (year on year) berada di angka 2,87 persen.

Untuk inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat angka tertinggi mencapai 4,52 persen dengan andil 1,40 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 3,86 persen dengan andil 0,50 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tahunan 3,52 persen dengan andil 0,31 persen, kelompok restoran atau penyediaan makanan minuman 2,08 persen dengan andil 0,18 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki 2,76 persen dengan andil 0,14 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tahunan 0,76 persen dengan andil 0,10 persen, serta kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga 1,75 persen dengan andil 0,10 persen.

Kelompok pengeluaran lainnya juga mencatat inflasi tahunan mencakup pendidikan 1,09 persen, informasi, komunikasi,dan jasa keuangan 0,88 persen, kesehatan 0,82 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 1,15 persen.

“Adapun lima komoditas utama penyumbang inflasi tahunan terbesar periode Oktober 2026 tercatat yakni beras, bensin,cabai merah, emas perhiasan, dan minyak goreng,” ungkapnya.

Pihaknya mengimbau pemerintah daerah agar memperkuat pengendalian pasokan dan pemantauan harga guna mengantisipasi kenaikan harga pangan pada dua bulan tersisa di akhir tahun.

"Jadi, inflasi kita sampai dengan Januari-Oktober itu sudah 2,34 persen. Masih ada dua bulan lagi, November dan Desember. Biasanya potensi kenaikannya tinggi pada Desember," lanjutnya.

Penguatan cadangan pasokan serta pemantauan intensif di tingkat pasar diharapkan mampu menekan potensi lonjakan inflasi pada akhir tahun 2026.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait