Rupiah Masih Tertekan, Dolar AS Menguat ke Rp18.155 Jelang Keputusan The Fed
Rupiah melemah ke Rp18.155 per dolar AS. Simak prediksi kurs rupiah hari ini, dampak keputusan The Fed, dan sentimen pasar global.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Ketidakpastian global, meningkatnya risiko geopolitik, serta penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah mengakhiri perdagangan Selasa (27/10/2026) di level Rp18.155 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 20 poin atau sekitar 0,11% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. Sementara itu, proyeksi pergerakan yang lebih luas menempatkan rupiah pada kisaran Rp18.000–Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Keputusan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), terutama terkait arah suku bunga dan prospek kebijakan moneter berikutnya, berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS serta mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Gejolak Geopolitik dan Arus Modal Asing Jadi Beban Rupiah
Lukman menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Salah satu risiko yang menjadi perhatian investor adalah potensi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul ancaman serangan militer AS dalam beberapa hari mendatang.
Ketidakpastian tersebut dapat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, dolar AS berpotensi memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari berlanjutnya aksi jual bersih atau net sell investor asing di pasar saham domestik. Arus keluar modal asing dapat memengaruhi permintaan terhadap rupiah, terutama apabila investor menukarkan dana hasil penjualan aset ke mata uang asing.
Menurut Lukman, pasar juga mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga, tetapi tetap menyampaikan sinyal kebijakan yang cenderung hawkish atau ketat. Jika komunikasi bank sentral AS lebih agresif dibandingkan perkiraan pasar, dolar berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Mata Uang Asia Bergerak Beragam
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika pergerakan mata uang Asia menunjukkan arah yang bervariasi terhadap dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Peso Filipina tercatat mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,34%. Won Korea Selatan dan dolar Singapura masing-masing terkoreksi 0,05%.
Di sisi lain, dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar sebesar 0,33%. Rupee India menguat 0,06%, sedangkan ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dolar Hong Kong masing-masing naik 0,02%. Yuan China terpantau relatif stagnan terhadap dolar AS.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan tidak berlangsung seragam. Respons investor terhadap risiko global, arah kebijakan moneter AS, serta kondisi ekonomi masing-masing negara turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Rupiah Berpotensi Bergerak Konsolidatif
Untuk perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan masih tertekan. Rentang Rp18.100–Rp18.200 per dolar AS menjadi proyeksi pergerakan yang disampaikan Lukman Leong.
Investor akan mencermati hasil rapat FOMC dan pernyataan The Fed untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS selanjutnya. Selain itu, perkembangan situasi geopolitik dan aliran modal asing di pasar keuangan Indonesia juga berpotensi memengaruhi sentimen perdagangan.
Apabila dolar AS menguat akibat sinyal kebijakan The Fed yang lebih ketat, rupiah berisiko melanjutkan pelemahan. Sebaliknya, perubahan ekspektasi pasar yang lebih positif terhadap kebijakan moneter AS dapat membuka ruang bagi pergerakan rupiah yang lebih stabil.
Meski demikian, proyeksi tersebut bukan kepastian arah pasar. Pergerakan aktual rupiah tetap bergantung pada hasil keputusan The Fed, perkembangan risiko global, dan respons pelaku pasar sepanjang perdagangan.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWS VIDEOKapolres Reynold Hutagalung Minta Massa Demo Jaga Ketertiban di Kawasan UOB Plaza
Fadli Tara·2 menit yang lalu -
NASIONALKapolri dan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok Perkuat Kerja Sama Pemberantasan Narkotika Lintas Negara
Rozie Winata·9 menit yang lalu -
NEWS VIDEOKapolri Terima Kunjungan Delegasi Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, Perkuat Kerja Sama Pemberantasan Narkotika
32 menit yang lalu -
NASIONALPotong Iuran Tapi Tak Disetor? BPJS Ketenagakerjaan dan Kejati Aceh Siap Tindak Perusahaan Nakal
33 menit yang lalu -
PERISTIWADiduga Terkait Sengketa Tanah, Empat Rumah Warga Sei Kera Hilir Diserang OTK
Rozie Winata·34 menit yang lalu -
-
NEWS VIDEOTak Tahan Uang Selalu Dicuri untuk Beli Narkoba, Ibu di Palembang Serahkan Anaknya ke Polisi
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
NASIONALKapolri Kedepankan Pendekatan Humanis dalam Pengamanan Aksi Demontrasi
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTMaskapai Wings Air Hentikan Rute Penerbangan Mandailing Natal-Medan
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALBareskrim Polri Boyong 10 Tersangka Lab Sabu 1,2 Ton Asal Pidie ke Jakarta
Rozie Winata·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan