Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak di Rp18.100–Rp18.200 per Dolar AS

Rupiah diprediksi bergerak Rp18.100-Rp18.200 per dolar AS pada Jumat 30 Oktober 2026. Simak pengaruh The Fed, BI, dan sentimen global hari ini juga.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak dinamis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Mata uang Indonesia berpeluang mendapatkan dorongan dari pelemahan dolar AS setelah keputusan terbaru Federal Reserve (The Fed), meskipun tekanan eksternal dan keluarnya dana asing masih menjadi tantangan.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Proyeksi tersebut muncul setelah rupiah berhasil mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah ditutup di posisi Rp18.140 per dolar AS, menguat 44 poin atau sekitar 0,24% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Penguatan mata uang Garuda tidak terlepas dari tekanan terhadap dolar AS menyusul hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 28 Oktober 2026 waktu setempat.

Keputusan The Fed yang sesuai dengan perkiraan pasar dinilai memberikan ruang bagi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih positif.

Lukman menjelaskan, keputusan bank sentral AS tersebut belum memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Ketidakpastian tersebut turut membatasi penguatan dolar AS.

Meski demikian, peluang apresiasi rupiah belum sepenuhnya aman. Sikap investor yang cenderung menghindari aset berisiko atau risk off, ditambah aksi jual bersih investor asing di pasar keuangan domestik, masih berpotensi menahan penguatan mata uang Indonesia.

Pelaku pasar juga tengah menunggu sejumlah indikator ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain itu, perkembangan hubungan geopolitik, khususnya terkait potensi aksi militer AS terhadap Iran, turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sentimen investor global.

Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi

Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada perdagangan Kamis (29/10/2026) secara umum menunjukkan kecenderungan menguat terhadap dolar AS, meskipun beberapa mata uang masih mengalami tekanan.

Won Korea Selatan mencatatkan penguatan paling besar, yakni 0,54%. Berikutnya ringgit Malaysia naik 0,39% dan peso Filipina menguat 0,30%.

Sementara itu, yuan China terapresiasi 0,07%, dolar Singapura naik 0,06%, dan yen Jepang menguat tipis 0,03%.

Di sisi lain, dolar Taiwan mengalami pelemahan 0,37%. Rupee India terkoreksi 0,09%, baht Thailand turun 0,07%, sedangkan dolar Hong Kong melemah 0,01%.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa respons mata uang Asia terhadap dolar AS masih beragam. Kondisi ini membuat perkembangan sentimen global dan arus modal asing menjadi faktor penting yang perlu dicermati dalam menentukan arah rupiah.

BI Ingatkan Tekanan Rupiah Masih Berlanjut

Di tengah peluang penguatan rupiah, Bank Indonesia (BI) mengingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar dan perekonomian nasional.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menilai situasi ekonomi dunia belum sepenuhnya kondusif. Tekanan dari luar negeri dapat merambat ke Indonesia, mulai dari sektor keuangan hingga aktivitas ekonomi riil.

Menurut Destry, dunia saat ini masih menghadapi kondisi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih panjang atau dikenal dengan istilah higher for longer.

Ia menyoroti keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) pada kisaran 3,75%–4% dalam pertemuan FOMC 28 Oktober 2026.

Meski keputusan tersebut tidak menaikkan suku bunga, BI tetap mewaspadai kemungkinan perubahan kebijakan The Fed pada pertemuan selanjutnya.

Destry mengungkapkan, tekanan inflasi Amerika Serikat yang masih berada di atas 3,5%, jauh dari target The Fed sebesar 2%, menjadi salah satu alasan yang perlu diperhatikan.

BI bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan AS pada Desember mendatang masih cukup besar. Risiko kenaikan lanjutan pada 2027 juga belum dapat dikesampingkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Destry dalam Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Dengan berbagai perkembangan tersebut, pergerakan rupiah pada Jumat ini akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS, respons pasar terhadap kebijakan The Fed, data ekonomi Amerika Serikat, serta perkembangan geopolitik.

Meski terdapat peluang penguatan, investor tetap perlu mencermati risiko eksternal yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan Indonesia.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait