Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.038 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan BI

Rupiah menguat 0,04% ke Rp18.038 per dolar AS pada 20 Oktober 2026. Pasar menanti keputusan suku bunga BI di tengah tekanan arus modal asing.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co,ย JAKARTA โ€“ Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (20/10/2026) dengan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan positif ini sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia di tengah pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah menguat 0,04% ke level Rp18.038 per dolar AS. Penguatan tersebut menjadi angin segar setelah mata uang Garuda mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.

Pada Senin (19/10/2026), rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp18.046 per dolar AS.

Sejumlah Mata Uang Asia Ikut Menguat

Penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan pergerakan positif beberapa mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia tercatat naik 0,02%, yuan China menguat 0,04%, rupee India meningkat 0,03%, dan peso Filipina bertambah 0,03%.

Won Korea Selatan mencatat penguatan lebih besar, yakni 0,31%.

Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak positif. Yen Jepang melemah 0,03%, dolar Taiwan terkoreksi 0,11%, sedangkan baht Thailand turun 0,07%.

Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih dipengaruhi dinamika sentimen global dan respons investor terhadap berbagai risiko ekonomi maupun geopolitik.

Sentimen Global dan Arus Modal Asing Tekan Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah pada perdagangan sebelumnya dipengaruhi meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global serta keluarnya dana asing dari pasar domestik.

Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Situasi ini turut menopang pemulihan dolar AS setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina.

Lukman menjelaskan bahwa kombinasi ketidakpastian geopolitik dan arus keluar modal asing masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh pasar keuangan Indonesia.

Menurutnya, apabila tekanan arus modal keluar berlanjut, ruang penguatan rupiah berpotensi terbatas meskipun mata uang Garuda sempat dibuka menguat pada perdagangan Selasa.

Keputusan Suku Bunga BI Jadi Perhatian Pasar

Di tengah terbatasnya agenda ekonomi penting dari luar negeri pada hari ini, perhatian investor domestik beralih ke hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/10/2026).

Keputusan BI akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar dalam menilai prospek rupiah, terutama di tengah tekanan dolar AS, ketidakpastian global, dan pergerakan arus modal asing.

Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tekanan apabila arus keluar dana asing belum mereda.

Untuk perdagangan, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa masih perlu dicermati lebih lanjut. Investor akan memantau perkembangan sentimen global serta keputusan BI untuk melihat apakah penguatan mata uang Garuda dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait