Nusantaraterkini.co, Jakarta - Terkait serangan Iran yang telah menembakkan lebih dari 370 rudal dan drone ke israel sebagai balasan atas Agresi Militer Zionis yang dimulai sejak Jumat pekan lalu.
BACA JUGA: Demo Gedung Putih, Warga AS Minta Trump Tak Ikut Campur Perang Israel dan Iran
Serangan balasan Teheran ini telah menewaskan 24 orang dan lebih dari 500 lainnya terluka.
Menanggapi hal tersebut Menurutnya Pengamat Politik Luar Negeri, Teguh Sentosa pengamat pertama hal ini merupakan sebuah proses kalibrasi ulang tatanan global.
BACA JUGA: Amerika Serikat Bersiap Serang Iran dalam Waktu Dekat
Jadi, selama ini yang digambarkan dan dibayangkan tidak pernah terbayangkan kekuatan utama di dunia mendapat serangan serius dari Iran yang selama dianggap sebagai negara yang tidak power full.
"Tetapi kita melihat kecanggihan persenjataan Iran, presisinya dan jalur komando yang sangat solid yang membuat Israel yang selama ini dibayangkan sebagai kota yang tak tersentuh ternyata bisa juga tersentuh," kata Teguh Sentosa seperti dilansir dari kanal YouTube berita nasional TV.
Jadi hal pertama sebagai perhatian hal ini terjadi sebagai proses tatanan ulang politik global. "Saya melihat pihak Israel kurang cermat memilih waktu, di saat Amerika Serikat tidak bisa berbuat banyak karena mereka memiliki masalah sendiri juga disaat negara sekutu NATO sedang menghadapi masalah sendiri dan domestiknya," ungkapnya.
Jika pihak Israel tidak mempunyai strategi yang solid dan hitungan yang cermat, hal ini bisa membuat peperangan berakhir hilangnya wajah Israel karena salah memilih lawannya.
Dia menjelaskan Iran merupakan lawan yang kurang cermat membaca kekuatan Iran oleh Israel. Mereka sejak diembargo pada tahun 1979 setelah revolusi Iran tidak memiliki kekuatan yang sangat cukup.
"Mereka membayangkan kekuatan militer dan persenjataan Iran termasuk kemampuan mereka senjata nuklir itu tidak seperti yang mereka lihat seperti saat ini," jelasnya.
Dia menegaskan bahwa perang itu adalah sebuah diplomasi dengan cara yang lain makanya ada istilah And I For And I jika kita diserang kita selamat. Dan, Iran menggunakan pasal 51 piagam PBB jika sebuah negara diserang secara tidak legal oleh negara lain akan melakukan balasan.
Iran masih menggunakan medium perang ini untuk mengajak dialog bagi Israel, paling tidak pihaknya ingin mengatakan bahwa pihak tidak ingin di bully oleh Israel selama ini.
"Karena Israel selalu mengatakan bahwa Iran adalah kekuatan dibalik perlawan rakyat Palestina terhadap mereka tetapi satu hal yang dilupakan kalau kita menerima to tate solution sebagai jalan perdamaian yang lebih solid dikawasan yang berkonflik itu. seharusnya mereka juga mengakui dembarkasi dan hal-hal kemanusian rakyat Palestina terutama di Gaza yang sudah diembargo mereka" tegas Teguh Sentosa.
Tentang Selat Hormuz yang menghubungkan Amerika, Eropa, Asia dan Timur Tengah tetapi jika menggunakan kalimat bahwa perang merupakan cara deplomasi yang lain maka hal ini masih akan di konten dampaknya terhadap gangguannya tidak dalam waktu yang cukup panjang dikarenakan.
Dirinya, melihat desakan dari rakyat Israel terhadap presiden Benjamin Netanyahu justru lebih besar.
"Bukan saja serangan dari Iran tetapi dikarenakan ketidakpuasan dari rakyatnya sendiri karena rakyat Israel tidak pernah menderita karena selalu dininabobokan oleh kekuatan mereka ," tegasnya.
Sekarang kita bisa lihat rakyat Israel sudah kehilangan rasa kenyamanan tersebut. "Lihat saat ini rakyat Israel kocar kacil lari ke bungker, ke negara lain malah saat ini rakyat Iran semakin solid dengan rezim yang sekarang malah bersatu dan sudah terbiasa dalam kondisi tertekan oleh dunia internasional sejak tahun 1979," cetusnya.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
