Nusantaraterkini.co, TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam Iran (Iran's Islamic Revolution Guards Corps/IRGC) pada Jumat (23/1/2026) mengatakan 10 badan intelijen asing berada di balik insiden "teroris" baru-baru ini di negara tersebut.
Dalam sebuah pernyataan di media resminya, Sepah News, IRGC menggambarkan insiden tersebut sebagai bagian dari rencana Amerika Serikat (AS)-Israel yang gagal untuk mengancam integritas teritorial dan nasional Iran.
Baca Juga : Iran Ancam Perang Habis-habisan Jika AS Berani Serang Ali Khamenei
Pernyataan itu menyebutkan sebuah ruang komando asing didirikan setelah konflik selama 12 hari pada Juni untuk menciptakan kekacauan internal, memprovokasi intervensi militer, dan memobilisasi kelompok-kelompok yang dianggap sebagai ancaman, tanpa memberikan bukti.
Baca Juga : 5.000 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gelombang Demonstrasi Berdarah di Iran
IRGC mengatakan pihaknya telah menggagalkan rencana-rencana tersebut dari Juni hingga akhir Desember, menahan 735 orang yang terkait dengan jaringan antikeamanan, membina 11.000 individu rentan, dan menyita 743 senjata ilegal.
Dalam pernyataan terpisah, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut kerusuhan itu sebagai kudeta semu yang didukung oleh AS dan Israel, menurut kantor berita resmi IRNA.
Baca Juga : Komandan Hizbullah Haytham Ali Tabtabai Tewas, Iran Janji Beri Balasan Menghancurkan ke Israel
Dia menyampaikan pernyataan tersebut dalam percakapan via telepon dengan Ketua Parlemen Turkiye Numan Kurtulmus pada Kamis (22/1/2026). Dalam kesempatan itu, dia juga berterima kasih kepada Turkiye atas kebijakan nonintervensinya dalam urusan dalam negeri Iran.
Aksi unjuk rasa meletus di seluruh Iran pada bulan lalu karena masalah ekonomi sebelum kemudian berkembang menjadi isu politik dan berujung kekerasan, yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas pada properti publik, masjid, gedung pemerintah, dan bank. Otoritas Iran menyalahkan AS dan Israel karena menghasut kerusuhan tersebut.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
