Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pakar komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) menilai aktivitas Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya terekam bekerja hingga larut malam bukan sekadar rutinitas personal, melainkan pesan politik dibaca positif oleh publik.
Unggahan video Teddy yang menunjukkan dirinya masih berada di kantor hingga pukul 23.45 WIB menuai banyak respons warganet. Bagi Hensa, momen tersebut merepresentasikan simbol etos kerja pemerintahan yang sedang diuji publik di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan kinerja yang tinggi.
“Bekerja sesuai jam kantor memang kewajiban, tetapi ketika seorang pejabat negara menunjukkan kesiapan bekerja melewati jam formal, itu memberi kesan adanya dedikasi ekstra. Publik membaca itu sebagai bentuk keseriusan,” kata Hensa, Rabu (4/2/2026).
Dalam video tersebut, Teddy bahkan masih menerima kunjungan Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem menjelang dini hari. Menurut Hensa, gestur semacam ini, meski tampak sederhana, memiliki makna politik karena menyentuh aspek akuntabilitas dan pelayanan publik.
Namun, Hensa mengingatkan bahwa simbol kerja keras tidak boleh berhenti pada pencitraan individual. Ia berharap pola kerja tersebut dapat menjadi standar kolektif di lingkungan kabinet Presiden Prabowo Subianto.
“Keuntungan memiliki Sekretaris Kabinet yang relatif muda adalah energi dan daya tahannya. Tapi publik tentu berharap semangat ini menular, bukan hanya jadi etalase personal. Menteri dan jajaran kabinet lain perlu menunjukkan kesungguhan yang sama,” ujarnya.
Baca Juga : Oposisi Mandek, Prabowo Nyaman: Peta Pilpres 2029 Terlalu Sepi Lawan
Di sisi lain, Hensa juga menyoroti sorotan tajam publik terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang belakangan menjadi sasaran kritik warganet usai menyampaikan optimisme kondisi ekonomi nasional.
Menurutnya, kritik tersebut muncul karena terdapat jarak antara narasi optimisme pemerintah dengan realitas ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Ketika pejabat menyampaikan gambaran ekonomi yang terkesan baik-baik saja, sementara masyarakat belum merasakan perbaikan signifikan, wajar jika muncul kegelisahan. Ini bukan sekadar soal komunikasi, tapi juga soal kepercayaan,” kata Hensa.
Baca Juga : Partai Gema Bangsa: Partai Baru atau Proyek Nebeng Kekuasaan?
Ia menilai, pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan ekonomi agar tidak memicu ekspektasi berlebihan yang berujung kekecewaan publik.
“Publik sekarang jauh lebih kritis. Kerja keras perlu dibuktikan dengan hasil, bukan hanya narasi. Di sinilah tantangan utama kabinet saat ini: menyelaraskan simbol, komunikasi, dan realitas,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co).
Baca Juga : RUU Perampasan Aset Digulirkan, Pakar Ingatkan Resiko Dijadikan Senjata Politik
