Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (22/8/2025) nilai tukar rupiah berada di level Rp16.353 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,40% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.288 per dolar AS.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Loyo Melemah 0,23% Berada di Level Rp 16.236 Per Dolar AS
Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS siang ini. Rupiah mencatat pelemahan terdalam yakni 0,40%, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,32%, yen Jepang melemah 0,25%.
Rupee India melemah 0,24%, pesso Filipina melemah 0,17%, ringgit Malaysia melemah 0,12%, baht Thailand melemah 0,09%, dolar AS melemah 0,08%, yuan China melemah 0,06%, dan dolar Hong Kong melemah 0,05%.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Berkonsolidasi Dalam Rentang Sempit
Sedangkan won Korea menjadi satu-satunya mata uang yang menguat terhadap dolar AS dengan kenaikan 0,42%.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,82, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 98,62.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,11% Berada di Level Rp16.187 Per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Masih Tertekan Meski Investor Cenderung Wait And See
Pada perdagangan Kamis (21/8/2025) nilai tukar rupiah kembali melemah ditutup turun 0,10% ke level Rp 16.288 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sebaliknya, kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia justru menguat tipis 0,05% menjadi Rp 16.283 per dolar AS dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp 16.291 per dolar AS.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Bergerak Sideways Pekan Ini
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi seiring rebound dolar AS pasca-rilis risalah rapat FOMC.
Risalah tersebut menunjukkan mayoritas pejabat The Federal Reserve (The Fed) masih cenderung hawkish.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Diproyeksikan akan Bergerak Sideways Hari Ini
Namun, pelemahan rupiah relatif terbatas. Hal ini dipengaruhi adanya perbedaan pandangan dari dua gubernur The Fed yang menandakan tekanan dovish meningkat.
Kondisi tersebut membuka peluang pemangkasan suku bunga pada September.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan, walau investor cenderung wait and see menantikan pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam simposium Jackson Hole besok," ujar Lukman
Lukman memperkirakan, Powell kemungkinan besar masih akan mempertahankan nada hawkish sehingga mendukung penguatan dolar AS.
Adapun rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 16.200–Rp 16.350 per dolar AS pada Jumat (22/8).
