Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan hari ini. Senin (18/8) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah berada di level Rp16.198 per dolar AS di pasar spot.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,27% Berada di Level Rp 16.158 per dolar AS
Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,18% dibanding penutupan Jumat (15/8) yang berada di level Rp 16.169 per dolar AS.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, pelemahan rupiah hari ini kemungkinan besar dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Berpeluang Tembus di Bawah Rp 16.000
"Dari sentimen global, pergerakan dolar AS di pasar global memiliki pengaruh besar. Jika dolar AS menguat, biasanya mata uang lain, termasuk rupiah, akan cenderung melemah," ujar Sutopo.
Sutopo bilang, penguatan Dolar AS bisa disebabkan oleh data ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi, pernyataan dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang bernada hawkish atau sentimen risk-off, di mana investor beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,54% di Level Rp16.202 Per Dolar AS di Akhir Perdagangan Kamis (14/8/2025)
Selanjutnya, sentimen domestik bisa datang dari data ekonomi yang dirilis, seperti inflasi, neraca perdagangan, atau pertumbuhan ekonomi.
Jika data-data ini menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, investor asing bisa mengurangi kepemilikan aset-aset Rupiah, seperti saham dan obligasi, yang berakibat pada melemahnya nilai tukar.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,54% di Level Rp16.202 Per Dolar AS di Akhir Perdagangan Kamis (14/8/2025)
Serta arus modal keluar (capital outflow). Pelebaran selisih imbal hasil (yield) antara obligasi AS dan obligasi Indonesia juga dapat mendorong investor asing untuk menarik modalnya dari Indonesia. Hal ini menciptakan permintaan terhadap Dolar AS yang lebih tinggi dan menekan Rupiah.
Sutopo mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi, perkembangan geopolitik, dan kebijakan moneter yang berlaku. Baik di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Bakal Menguat Dipicu Data Inflasi Amerika Serikat
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi dalam rentang sempit.
Menurutnya, investor cenderung wait and see masih menantikan serentetan agenda sepekan ini. Seperti risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dan pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada simposium ekonomi di Jackson Hole.
"Adapun pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Zelensky diperkirakan tidak akan menghasilkan perubahan apapun," ucap Lukman.
Lukman menambahkan, investor juga mengantisipasi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari rabu yang hingga saat ini diperkirakan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga. Namun dengan meredanya tekanan dolar AS, potensi terbuka untuk pemangkasan.
Sutopo memperkirakan rupiah besok akan bergerak dalam rentang yang ketat. Yakni di level Rp 16.150 - Rp16.250 per dolar AS.
Sementara Lukman memproyeksikan rupiah akan berada di rentang Rp 16.100 - Rp 16.250 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/8)
