Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kurs Rupiah Dibuka Menguat 0,06% di Level Rp15.852 Per Dolar AS Ditopang Tren Pelemahan Dolar AS Secara Global

Editor:  Team
Reporter: wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
kurs rupiah spot ditutup menguat 0,47% ke level Rp 15.862 per dolar AS. Sementara, rupiah Jisdor BI menguat sekitar 0,40% ke level Rp 15.892 per dolar AS.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot lanjut menguat di awal perdagangan hari ini. Jumat (6/12), rupiah spot dibuka di level Rp 15.852 per dolar AS

Ternyata, hal ini membuat kurs rupiah menguat 0,06% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 15.862 per dolar AS. 

BACA: Harga Emas Antam Turun Rp8.000 Dibanderol Rp1.514.000 Per Gram di Perdagangan Jumat (6/12/2024)

Baca Juga : IHSG Berpotensi Terkoreksi, Analis Ungkap Level Waspada dan Saham Pilihan Hari Ini

Diperdagangan hingga pukul 09.00 WIB, mata uang di kawasan bergerak bervariasi. Di mana, peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,12%.  

Berikutnya, yen Jepang yang naik 0,04% dan ringgit Malaysia yang menguat tipis 0,007% terhadap the greenback.

BACA: Kurs Rupiah Mampu Mempertahankan Penguatan Ditutup di Level Rp15.862 Per Dolar AS

Baca Juga : DPR Dukung Instruksi Prabowo Bersih-Bersih BUMN, Nasim Khan: Jangan Ada Tebang Pilih

Sementara itu, won Korea Selatan kembali menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,63%.

Selanjutnya, dolar Singapura yang terkerek 0,13% dan yuan China koreksi 0,12%. Disusul, dolar Taiwan yang tergelincir 0,09%.

BACA: Harga Minyak Mentah Naik 0,22% ke Level US$ 68,69 Per Barel Terseret Data Ekonomi AS yang Lemah Menghambat Langkah OPEC+

Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760

Kemudian ada baht Thailand yang turun 0,07% dan dolar Hongkong yang melemah tipis di awal perdagangan pagi ini.

Kurs rupiah diproyeksi bergerak sideways
Kurs rupiah diproyeksi bergerak sideways pada perdagangan hari ini (6/12). Pasar kini menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) di akhir pekan. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (5/12), kurs rupiah spot ditutup menguat 0,47% ke level Rp 15.862 per dolar AS. Sementara, rupiah Jisdor BI menguat sekitar 0,40% ke level Rp 15.892 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Tertekan ke Rp16.770

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, penguatan rupiah didukung tren pelemahan dolar AS secara global. Pelemahan the greenback itu sejalan dengan data ADP Employment Change dan ISM Services yang secara mengejutkan alami penurunan.

‘’Data-data AS tersebut mendukung ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada bulan Desember 2024,’’ ucap Josua.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mencermati, Rupiah menguat terhadap dolar AS karena berkurangnya ketegangan geopolitik khususnya di kawasan seperti Eropa Timur. Situasi perang yang mereda telah menurunkan premi risiko terhadap Dolar AS, sehingga mata uang lain seperti Rupiah menjadi lebih menarik.

Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan, Pasar Cermati Arah Suku Bunga dan Sentimen Global

Sutopo turut melihat bahwa investor terus mengevaluasi prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Hal itu mengingat Ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan bank sentral AS tidak akan terburu-buru untuk menurunkan suku bunga pada pidato hari Rabu (4/12).

Walau demikian, data menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor jasa AS melambat lebih dari yang diantisipasi pada bulan November. Probabilitas penurunan suku bunga 25 basis poin pada bulan Desember pun meningkat menjadi sekitar 79%, naik dari 66,5% minggu lalu.

‘’Investor sekarang mengalihkan perhatian mereka ke laporan pekerjaan November hari Jumat untuk wawasan tambahan tentang arah kebijakan The Fed,’’ ujar Sutopo.

Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah, Sentuh Rp16.871 per Dolar AS

Di sisi lain, Sutopo mengantisipasi penguatan dolar AS sejalan dengan pelemahan Euro dan won Korea Selatan. Dolar mungkin didukung oleh gejolak politik di Prancis dan Korea Selatan yang saat ini tengah terjadi.

Sementara itu, Josua memperkirakan, rupiah hari ini berpotensi bergerak datar (sideways) akibat investor cenderung wait and see menjelang rilis data-data tenaga kerja AS bulan November. Data Non Farm Payroll (NFP) diperkirakan meningkat, meskipun tingkat pengangguran diperkirakan flat di level 4,1%.

Josua memproyeksi, rupiah akan bergerak datar pada rentang Rp 15.825 – Rp 15.925 per dolar AS di perdagangan hari ini (6/12).

Sementara, Sutopo turut memperkirakan rupiah bergerak stabil dalam rentang Rp 15.800 - Rp 15.900 per dolar AS pada hari ini.