Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760
Rupiah dibuka menguat ke Rp16.760 per dolar AS seiring tekanan global terhadap dolar dan sentimen pasar menanti rapat The Fed.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (27/1/2026). Mata uang Garuda dibuka menguat seiring berlanjutnya sentimen optimistis pasar global dan domestik.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi dengan apresiasi 0,06% ke posisi Rp16.760 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan capaian sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup naik 0,24% di level Rp16.770 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/1/2026).
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat tipis 0,03% ke level 97,072. Meski demikian, posisi ini masih mencerminkan tekanan setelah DXY terkoreksi cukup dalam sebesar 0,57% dan ditutup di 97,040 pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari global, dolar AS masih berada dalam tren pelemahan sejak awal 2026, memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Perhatian pelaku pasar global juga tertuju pada dimulainya rapat kebijakan dua hari The Federal Reserve yang berlangsung mulai Selasa ini. Rapat tersebut dibayangi isu sensitif terkait independensi bank sentral AS, mulai dari investigasi kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, dinamika upaya pencopotan Gubernur The Fed Lisa Cook, hingga spekulasi penunjukan calon pengganti Powell.
Situasi ini membuat pasar lebih mencermati narasi independensi The Fed ketimbang hanya menunggu arah kebijakan suku bunga.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Juda Agung. Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai latar belakang Thomas di Kementerian Keuangan serta kedekatannya dengan Presiden berpotensi memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya penegasan komitmen pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga independensi kebijakan moneter, terutama di tengah perhatian investor asing terhadap dinamika tersebut.
“Penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI memberi sinyal penguatan koordinasi fiskal dan moneter. Namun, di tengah sorotan pasar, pemerintah dan BI perlu terus menegaskan independensi kebijakan moneter demi menjaga kepercayaan investor asing,” ujar Rully.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
EKONOMIMichael Saylor Peringatkan Sistem Keuangan AS Harus Dibangun Ulang untuk Era AI
Rozie Winata·45 menit yang lalu -
INTERNASIONALKlaim Miliki Kendali Penuh, Trump Tolak Usulan Bersyarat Iran Terkait Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOMartin Hutabarat: Perubahan UUD Penting Dipahami untuk Menentukan Arah Bernegara
Fadli Tara·8 jam yang lalu -
-
KRIMINALViral Video Dugaan Bullying Siswi SMPN 12 Pematangsiantar, Polisi Langsung Turun Tangan
hendra·9 jam yang lalu -
BADMINTONDua Ganda Putra Indonesia Tembus Semifinal Asian Games 2026, Leo/Daniel Tantang Pasangan Nomor 1 Dunia
hendra·9 jam yang lalu -
INTERNASIONALTrump Tolak Proposal Iran, Teheran Masih Tunggu Jawaban Resmi soal Pembukaan Selat Hormuz
hendra·10 jam yang lalu -
-
EKONOMIKemiskinan Argentina Naik Jadi 32,3 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak
hendra·10 jam yang lalu -
PERISTIWAMarkas OPM Egianus Kogoya di Nduga Diserang dari Udara? Ini Kata TNI
hendra·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan