Nusantaraterkini.co, Jakarta - IHSG Terbang Tinggi 4,84% dalam sepekan terakhir. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 32,87 poin atau 0,41% ke 7.898,37 di akhir perdagangan Jumat (15/8/2025).
Baca Juga : Analis Pasar: Peluang IHSG Bisa Pecahkan Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Chory Agung Ramdhani, Kepala Departemen Customer Engagement & Market Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengatakan, kenaikan IHSG saat ini tidak hanya bersifat sentimen jangka pendek, tetapi juga didukung faktor fundamental ekonomi Indonesia yang membaik.
Dari sisi makro, momentum positif datang dari penurunan yield obligasi, ekspektasi pelonggaran moneter BI, dan potensi percepatan belanja pemerintah.
Baca Juga : IHSG Ditutup Menguat 101,214 Poin Bertengger ke Level 7.892,911 di perdagangan Rabu (13/8/2025)
“Dari sisi pasar saham, meski kinerja semester I 2025 relatif lemah (-6% yoy), proyeksi semester II 2025 menunjukkan potensi rebound earnings 5 % – 6% yoy, terutama karena basis rendah tahun lalu dan dukungan kebijakan,” ujar Chory kepada
Chory menyebut, risiko yang perlu dicermati investor saat IHSG melanju kencang. Antara lain, potensi profit taking akibat kenaikan IHSG beberapa waktu ini dan tekanan inflasi global akibat tarif dan harga komoditas pangan yang tinggi.
Baca Juga : IHSG Melanjutkan Penguatan ke Level 7.853,51 di Awal Perdagangan Rabu (13/8/2025)
IHSG Ditutup Melemah 32,87 Poin ke 7.898,37 di Akhir Perdagangan Jumat (15/8/2025)
Pada akhir perdagangan Jumat (15/8/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 32,87 poin atau 0,41% ke 7.898,37 di pasar spot.
Sebanyak 229 saham naik, 432 saham turun dan 139 saham stagnan.Hanya dua indeks sektoral yang selamat ke zona hijau.
Baca Juga : Analis Pasar: IHSG akan Berlanjut Menguat dengan Support 7.731 dan Resistance di 7.830 Hari Ini
Sedangkan sembilan indeks sektoral tergelincir ke zona merah, mengikuti pelemahan IHSG.
Indeks sektoral yang menguat adalah sektor teknologi yang naik 1,96% dan sektor kesehatan yang naik 0,71%.
Sedangkan indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor infrastruktur yang turun 2,20%, sektor energi turun 1,09% dan sektor barang baku yang turun 0,87%.
Baca Juga : IHSG Dibuka Positif Naik 57,666 Poin Berada di Level 7.663,591 di Awal Perdagangan Selasa (12/8/2025)
Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 46,71 miliar saham dengan total nilai Rp 30,38 triliun.
Top gainers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) (3,03%)
2. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) (2,24%)
3. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) (1,80%)
Top losers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (-6,11%)
2. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) (-5,19%)
3. PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) (-4,38%)
IHSG Parkir di Zona Hijau Bertengger di Level 7.926,45 di Perdagangan Sesi I, Jumat (15/8/2025)
Pada perdagangan sesi I, Jumat (15/8/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini parkir di zona merah setelah dibuka menguat.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG terkoreksi tipis 0,06% ke level 7.926,45 di pasar spot.
Delapan dari 11 indeks sektoral di BEI turun. Sektor yang turun paling dalam adalah infrastruktur 1,77%, perindustrian 0,78%, barang baku 0,66%, energi 0,47%, properti dan real estate 0,43% dan barang konsumen primer 0,35%.
Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 33,19 miliar dengan nilai transaksi Rp 23,65 triliun. Ada 378 saham yang turun, 230 saham yang naik dan 189 saham yang stagnan.
Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) 4,38% ke Rp 655 per saham
2. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) 3,70% ke Rp 1.30 per saham
3. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) 3,48% ke Rp 1.385 per saham
Top gainers di LQ45 adalah:
1. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) 2,56% ke Rp 8000 per saham
2. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) 1,99% ke Rp 1.280 per saham
3. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) 1,63% ke Rp 1.560 per saham
Analis Pasar: Usai All Time High, IHSG Diproyeksikan Bakal Terbang ke Level 8.000
Pada akhir perdagangan Kamis (14/8/2025), IHSG ditutup menguat 0,49% ke level 7.931,25. Level ini memecahkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH). Di sesi pertamanya, IHSG bahkan sempat menyentuh 7.973.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melaju hingga mencapai all time high (ATH) baru dan mendekati level psikologis di 8.000. Hal ini terjadi seiring mulai kembalinya aliran dana asing.
Di seluruh pasar, dana asing sudah melakukan beli bersih atau net buy Rp 4,70 triliun dalam sepekan. Sementara sebulan terakhir, net buy asing telah mencapai Rp 3,10 triliun.
Ekonom PT Panin Sekuritas Tbk Felix Darmawan menilai, ada sejumlah faktor pemicunya. Pertama, meredanya tensi perang tarif dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.
Kedua, pasar juga tengah berspekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25-50 basis poin pada September mendatang. Ini juga didukung rilis kinerja emiten yang rerata berada di atas ekspektasi pasar.
"Arus masuk ini berpotensi bertahan hingga akhir Agustus, terutama jika ekspektasi cut rate (pemangkasan suku bunga acuan) The Fed masih tinggi dan yield obligasi US tidak kembali naik signifikan," terang Felix kepada Kontan, Kamis (14/8/2025).
Felix mencermati, saham-saham sektor emiten plat merah dan perbankan banyak diincar asing. Dalam sepekan terakhir, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan net buy asing Rp 1,13 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 1,48 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 1,35 triliun, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp 194,98 miliar.
Jangka Pendek?
Meski begitu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, inflow asing ini masih bersifat jangka pendek yang memanfaatkan momentum tertentu. Sebab bila ditarik sejak awal tahun, net sell asing masih terlalu besar yakni sebesar Rp 57,34 triliun.
"Masih membutuhkan konfirmasi net inflow bulanan berturut-turut dan rupiah yang cenderung lebih stabil untuk bisa disebut mulainya tren inflow asing yang berkelanjutan," ujarnya.
Audi bilang, penguatan IHSG ditopang aliran dana asing ke saham perbankan dan telekomunikasi. Sebab, valuasinya terbilang murah setelah tertekan sepanjang kuartal I lalu.
Faktor lain, Bank Indonesia (BI) juga berpeluang memangkas suku bunganya di rapat dewan gubernur pekan depan. Ini ditambah dengan rilis data PDB Indonesia yang tumbuh 5,12% YoY di kuartal II 2025.
Ditambah lagi, rupiah pada Kamis (14/8/2025), mencapai level terkuatnya sejak awal 2025, yang akan semakin menarik perhatian asing terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka pendek.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman menimpali, saham konglomerasi seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Surya Esa Perkasa Tbk (RATU) yang berpotensi bergabung dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) selanjutnya turut memancing gairah investor terhadap pasar saham Indonesia.
Pekan depan, Audi memprediksi, IHSG bisa bergerak menguat terbatas di kisaran 7.700-8.200, seturut keputusan moneter BI dan data pertumbuhan kredit. Dari eksternal.
IHSG akan terpengaruh oleh arah kebijakan The Fed. Sementara hingga akhir tahun, IHSG bisa bergerak di level 8.000-8.100.
Perkiraan Felix, IHSG akan bergerak di kisaran 8.000, dengan katalis rilis PDB Indonesia dan tren net buy asing yang menurutnya akan tetap berlanjut.
"Strategi yang relevan adalah fokus pada saham berkapitalisasi besar yang likuid dan punya prospek defensif sekaligus pertumbuhan, seperti big banks, TLKM, dan ASII," sarannya.
Adapun Audi menyarankan buy terhadap saham BBRI dengan target harga Rp 4.360, TLKM Rp 3.240, PT Bank Mandiri Rp 6.300, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp 11.500, dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 1.720.
