Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Dibuka Anjlok 0,97 Persen ke 4.856, Investor Waspadai Tekanan Global

IHSG dibuka melemah 0,97 persen ke 4.856. BNI Sekuritas memproyeksikan peluang rebound, tetapi tekanan global masih membayangi pasar saham.

Bagikan:
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, IHSG hari ini. (Foto: istimewa)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, IHSG hari ini. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan pada awal perdagangan Rabu (4/11/2026). Indeks saham domestik dibuka di posisi 4.856,90 atau terkoreksi 47,39 poin setara 0,97 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 4.904,29.

Meski dibuka melemah, peluang pemulihan secara teknikal masih terbuka dalam perdagangan jangka pendek. Namun, pergerakan IHSG diperkirakan tetap dibayangi tekanan jual apabila belum mampu menembus level resistance terdekat.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpotensi mengalami technical rebound menuju kisaran 4.950–4.970.

"Hari ini, IHSG berpotensi short term teknikal rebound ke 4.950-4.970. Tapi hati-hati, sepanjang belum tembus di atas 4.970, IHSG masih akan terkoreksi ke 4700-4.800," ujar Fanny, Rabu (4/11/2026).

Dalam proyeksinya, area 4.700–4.800 menjadi zona support yang perlu diperhatikan investor. Sementara itu, rentang 4.950–4.970 diperkirakan menjadi resistance penting yang harus ditembus untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut.

Dari eksternal, pasar saham Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang tidak seragam pada penutupan perdagangan Selasa. Nasdaq berhasil menguat 0,83 persen, disusul S&P 500 yang naik 0,36 persen. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,38 persen.

Menurut Fanny, dinamika pasar Wall Street turut dipengaruhi sikap investor yang memilih menunggu perkembangan hasil pemilu paruh waktu atau midterm election di AS.

Penghitungan hasil pemilu tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi peta politik dan ruang kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump selama dua tahun mendatang. Dampaknya berpotensi menjalar ke kebijakan fiskal, perpajakan, regulasi, hingga alokasi belanja pemerintah.

Tekanan juga mewarnai perdagangan di kawasan Asia. Bursa saham Korea Selatan mencatat penurunan tajam sebesar 3,6 persen, sementara sejumlah indeks regional lainnya turut bergerak di zona merah.

Di pasar komoditas, harga minyak dunia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah sebelumnya terkoreksi lebih dari 7 persen. Pergerakan harga energi ini tetap menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menilai prospek pasar keuangan global.

Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada perkembangan ekonomi nasional setelah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyesuaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,4–5,5 persen.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 5,6–6 persen. Revisi ini menjadi salah satu pertimbangan investor dalam mengevaluasi prospek perekonomian domestik di tengah ketidakpastian global.

Dengan kombinasi tekanan dari pasar internasional dan penyesuaian proyeksi ekonomi nasional, pergerakan IHSG diperkirakan masih berlangsung fluktuatif.

Investor pun perlu mencermati perkembangan bursa global, hasil pemilu paruh waktu AS, serta kemampuan IHSG bertahan di atas level support. Penembusan resistance 4.970 akan menjadi salah satu sinyal penting bagi peluang pemulihan indeks dalam jangka pendek.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait