Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Tergelincir ke Level 5.065, Investor Cermati Sentimen Global dan Data Ekonomi RI

IHSG melemah 0,61% ke level 5.065 pada perdagangan Selasa. Investor mencermati sentimen global, kebijakan bank sentral, dan ekonomi Indonesia.

Bagikan:
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, IHSG hari ini. (Foto: istimewa)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, IHSG hari ini. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum menunjukkan arah yang solid pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Setelah sempat dibuka di zona hijau, indeks justru berbalik melemah seiring sikap hati-hati investor dalam merespons perkembangan ekonomi global dan domestik.

Hingga pukul 09.50 WIB, IHSG terkoreksi 31,22 poin atau 0,61 persen ke level 5.065,61. Pelemahan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang turun 1,77 poin atau 0,34 persen ke posisi 516,12.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia, memperkirakan IHSG masih berpeluang mengalami pergerakan fluktuatif dalam jangka pendek.

Dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, Liza menyebutkan level resistance IHSG berada di kisaran 5.182, 5.249, hingga 5.268. Sementara itu, apabila tekanan jual kembali meningkat, indeks berpotensi menguji area support 4.980 dan 4.907.

"Jika breakdown, IHSG bisa lanjut menuju support terdekat 4.800," ujarnya.

Diplomasi AS-Iran dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Perhatian

Dari eksternal, perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi kembali terbuka setelah kedua negara menunjukkan sinyal positif untuk melanjutkan negosiasi.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa Iran memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan. Bahkan, peluang tercapainya kesepakatan dinilai masih terbuka setelah pemimpin tertinggi Iran menyetujui langkah pemerintah untuk melanjutkan pembicaraan.

Trump juga dikabarkan lebih memilih memberikan kesempatan bagi proses negosiasi ketimbang kembali mengambil langkah militer.

Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington lebih mengutamakan penyelesaian secara damai. Pejabat Iran pun menyatakan kesepakatan masih memungkinkan dicapai melalui pembicaraan yang dimediasi Qatar.

Di sisi kebijakan moneter, Bank of Japan (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 1,25 persen, sesuai dengan perkiraan pasar.

Perhatian pelaku pasar selanjutnya tertuju pada keputusan suku bunga sejumlah bank sentral lainnya, termasuk Inggris, Australia, Norwegia, dan Swedia yang dijadwalkan berlangsung sepanjang pekan ini.

Selain itu, pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada Selasa (3/11/2026) turut menjadi perhatian. Hasil pemilu tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan AS serta regulasi di berbagai sektor ekonomi.

Fundamental Ekonomi Indonesia Tunjukkan Penguatan

Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan sinyal positif. Aktivitas manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) yang meningkat menjadi 54, dibandingkan 52,4 pada September.

Capaian tersebut menjadi level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024, sekaligus menunjukkan aktivitas industri manufaktur nasional masih berada dalam jalur pertumbuhan.

Neraca perdagangan Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Dengan demikian, akumulasi surplus perdagangan sepanjang Januari-September 2026 mencapai 10,61 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai ekspor nasional tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 221,23 miliar dolar AS.

Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan (month to month/mtm). Adapun inflasi tahun kalender mencapai 2,4 persen, masih berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Bursa Global Bergerak Beragam

Pergerakan pasar saham internasional turut memberikan gambaran beragam terhadap sentimen investasi.

Bursa saham Eropa berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (2/11). Euro Stoxx 50 naik 0,78 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,29 persen, DAX Jerman bertambah 0,63 persen, dan CAC 40 Prancis mencatatkan kenaikan 0,98 persen.

Sebaliknya, perdagangan Wall Street berlangsung variatif. Indeks S&P 500 melemah 0,5 persen ke posisi 7.542,92, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,1 persen menjadi 25.164,32. Di tengah tekanan tersebut, Dow Jones Industrial Average justru menguat 0,4 persen ke level 51.986,30.

Tekanan juga terlihat di sejumlah bursa Asia pada perdagangan pagi. Nikkei Jepang turun 0,33 persen ke posisi 63.081,86, Shanghai Composite melemah 0,86 persen menjadi 3.606,74, dan Kospi Korea Selatan terkoreksi cukup dalam sebesar 3,10 persen ke level 5.675,17.

Sementara itu, Hang Seng Hong Kong masih mampu menguat 0,17 persen ke posisi 23.466,95. Adapun Straits Times Singapura turun 0,57 persen menjadi 5.273,83.

Kombinasi sentimen eksternal yang belum stabil dan perkembangan fundamental ekonomi domestik membuat pelaku pasar masih cenderung berhati-hati. Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi respons investor terhadap dinamika global serta kemampuan pasar mempertahankan level support terdekat.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait