Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IHSG Bergerak Lesu, Bursa Asia Sideways Menanti Rilis Data AS

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Elvrida Lady Angel Purba
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Bursa saham Asia mayoritas bergerak sideways di zona hijau pada perdagangan Kamis (10/10/2024), dengan pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati dan memilih posisi wait and see.

Minimnya sentimen pasar membuat aktivitas transaksi sepanjang hari ini diperkirakan akan berjalan lesu. Para pelaku pasar menantikan rilis data penting dari Amerika Serikat yang baru akan diumumkan malam nanti.

Baca Juga : IHSG Masih Tertekan Sentimen MSCI, Simak Strategi dan Rekomendasi Saham Senin 2 Februari 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan kenaikan tipis di level 7.501, nyaris tidak berubah dari penutupan perdagangan sebelumnya. IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 7.470 hingga 7.540 sepanjang hari, tanpa adanya dorongan kuat dari dalam negeri.

Baca Juga : Ketidakselarasan dengan Prabowonomics Dinilai Jadi Pemicu Eksodus Massal Petinggi OJK dan BEI

Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS, mencapai level 15.655 per dolar pada sesi perdagangan pagi.

Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dan bursa saham di Asia sangat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil US Treasury.

Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish

"Dolar AS sedang berada dalam tren penguatan terhadap berbagai mata uang Asia, termasuk rupiah, karena data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan daya tahan kuat. Ini juga yang mendorong spekulasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga secara drastis," ujarnya kepada Nusantaraterkini.co.

Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Jaga Ekonomi Sumut di Level 5% pada 2026

Menurutnya, pertemuan terakhir Federal Reserve yang diungkap dalam Fed Meeting Minutes telah memberikan gambaran lebih jelas bahwa pengetatan kebijakan moneter di AS mungkin akan berlangsung lebih lama. 

"Pelaku pasar menerjemahkan bahwa kebijakan moneter yang ketat mungkin tidak akan dilonggarkan secara cepat, yang membuat pasar global, termasuk di Indonesia, cenderung menahan diri," jelasnya.

Baca Juga : IHSG Menguat di Awal Pekan, Harga Emas Kembali Naik di Atas $4.500 Per Ons

Selain menunggu langkah dari Federal Reserve, para pelaku pasar juga memperhatikan data inflasi AS yang akan dirilis. Gunawan Benjamin menambahkan bahwa data ini sangat berpengaruh terhadap arah kebijakan moneter AS ke depan. 

Baca Juga : IHSG Melemah Ikuti Tekanan Bursa Asia dan Global, Pasar Tunggu Rilis Data Ekonomi

"Data inflasi AS menjadi kunci karena jika inflasi tetap tinggi, The Fed mungkin masih akan bertahan dengan kebijakan suku bunga yang ketat, dan ini bisa memperburuk kondisi di pasar saham," sambungnya.

Selain itu, harga emas yang biasanya menjadi aset aman (safe haven) bagi investor juga terpantau melemah. Pada perdagangan hari ini, harga emas turun ke level $2.609 per ons troy. Menurut Gunawan, penurunan ini terjadi karena ekspektasi bahwa data ekonomi AS akan tetap kuat. 

"Investor merasa lebih aman berinvestasi di dolar AS dibanding emas, karena dolar dianggap lebih stabil dalam situasi ekonomi saat ini," tambahnya.

Dalam konteks domestik, Gunawan menilai pasar Indonesia masih terpengaruh sentimen global, terutama kebijakan AS. 

"Sikap pasif ini tampak jelas di IHSG yang hari ini cenderung bergerak dalam pola sideways. Meski demikian, beberapa sektor seperti pertambangan dan energi bisa mendapatkan keuntungan dari penguatan dolar AS, karena ekspor Indonesia terutama komoditas batubara dan minyak sawit mentah (CPO) diuntungkan dengan pelemahan rupiah," ujarnya.

Gunawan memperkirakan, sepanjang hari ini IHSG kemungkinan besar akan terus bergerak dalam pola yang sempit. Investor cenderung berhati-hati hingga ada kejelasan lebih lanjut dari rilis data AS. 

"Malam ini akan sangat menentukan, apakah sentimen pasar akan berubah atau justru semakin pesimis. Kalau data AS menunjukkan ekonomi mereka masih kuat, kemungkinan kita akan melihat pergerakan pasar yang stagnan atau bahkan tekanan lanjutan," jelas Gunawan menutup perbincangan.

Selain itu, meskipun sebagian besar bursa Asia berada di zona hijau, para analis memperkirakan bahwa tanpa adanya katalis positif dari ekonomi global, bursa di kawasan ini mungkin akan kesulitan untuk mengalami kenaikan signifikan. Di sisi lain, pasar juga perlu waspada terhadap perkembangan di Eropa dan Tiongkok, yang dapat memengaruhi arus investasi global.

Para pelaku pasar dalam negeri diimbau untuk tetap memperhatikan faktor eksternal dan bersiap untuk volatilitas lebih lanjut, terutama jika data inflasi AS mengindikasikan bahwa tekanan harga masih tinggi. Bursa saham Indonesia, yang sudah melewati fase penguatan dalam beberapa bulan terakhir, bisa menghadapi periode konsolidasi hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai kebijakan moneter AS.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)