Harga Bitcoin Diperdagangkan di Kisaran US$100.000 Berpeluang Mencetak Rekor Baru dalam Waktu Dekat
Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 100.000, naik 2,6% dalam 24 jam terakhir. Altcoin utama seperti Ethereum juga mencatat kenaikan signifikan sebe
Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan 12 Desember 2024 kemarin, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 100.000, naik 2,6% dalam 24 jam terakhir.
Altcoin utama seperti Ethereum juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 7,2%, diikuti oleh XRP (4,7%) dan Solana (5,2%) pada periode yang sama.
BACA: Harga Bitcoin Kembali Menyusut Bertengger Dilevel US$ 99.965 Sempat Mencetak Rekor Baru
Kenaikan Bitcoin diiringi oleh Fear and Greed Index pasar kripto yang mencapai 76 dari 100, menunjukkan dominasi sentimen optimisme atau "greed."
Jika tren ini berlanjut, Bitcoin berpotensi menembus level psikologis di atas US$ 104.000, melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang dicapai pekan lalu.
Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk November 2024 tercatat di level 315,493, naik 2,7% dibandingkan bulan Oktober yang sebesar 2,6%. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan harga barang dan jasa konsumsi masyarakat.
Data tersebut juga memicu spekulasi kemungkinan pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve dalam pertemuan FOMC mendatang.
Dampak positif data CPI mulai terlihat di pasar aset kripto. Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah sebelumnya sempat berfluktuasi.
CEO Indodax, Oscar Darmawan, menilai data CPI ini membawa angin segar bagi pasar kripto.
"Data CPI yang sesuai ekspektasi memberikan dorongan positif, terutama dengan optimisme terhadap kebijakan suku bunga yang lebih longgar dari Federal Reserve," ujarnya dalam siaran pers.
Menurut Oscar, kenaikan harga Bitcoin juga mencerminkan meningkatnya minat institusional terhadap aset kripto. Menurutnya, investor institusional mulai memahami pentingnya Bitcoin dalam portofolio mereka, yang menunjukkan pergeseran pandangan terhadap pasar keuangan tradisional.
Oscar menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap teknologi blockchain. "Ketika lebih banyak orang memahami manfaat Bitcoin dan blockchain, adopsi akan meningkat secara alami," jelasnya.
Ia juga mencatat bahwa potensi pemotongan suku bunga oleh The Fed dapat mendukung tren kenaikan aset berisiko seperti Bitcoin. Namun, ia mengingatkan agar tetap waspada terhadap volatilitas pasar.
"Fear and Greed Index yang tinggi menunjukkan optimisme, tetapi aksi jual dapat terjadi seiring meningkatnya kepercayaan pasar," jelasnya.
Oscar juga menyoroti pentingnya regulasi yang mendukung pertumbuhan aset digital. Menurutnya, tegulasi yang jelas dan proaktif akan menciptakan ekosistem yang sehat bagi perkembangan aset kripto, baik di Indonesia maupun secara global.
Dengan momentum positif saat ini dan kebijakan moneter global yang kondusif, Bitcoin berpeluang mencetak rekor baru dalam waktu dekat.
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
HUKUM DAN KRIMINALTerseret Kasus Dugaan Pelecehan, Anggota DPRD Kota Serang Minta Tak Ditahan
hendra·20 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPolri Bongkar TPPO Berkedok Rekrutmen Tentara Rusia, 13 Orang Jadi Tersangka
hendra·58 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALImigrasi Denpasar Amankan 3 WNA Diduga Tawarkan Jasa Prostitusi, Tarif Capai Rp13,7 Juta
hendra·1 jam yang lalu -
NASIONALGibran Didesak Mundur Usai Putusan MA, Denny Indrayana Minta DPR Mulai Proses Pemakzulan
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSOJK Pacu Inovasi Keuangan Syariah, Produk dan Layanan Diminta Lebih Berpihak pada Konsumen
hendra·3 jam yang lalu -
NEWS VIDEOEdarkan 599 Vape Narkoba, E-S Pegawai Lapas Kelas I Medan Terancam Dipecat
Fadli Tara·3 jam yang lalu -
SUMSELKetua RT dan RW Jadi Korban Pembacokan Brutal di Palembang, Kuasa Hukum Desak Polisi Tangkap Pelaku
hendra·3 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALKetua RT dan RW di Palembang Dibacok OTK, Diduga Gegara Sengketa Lahan
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
NEWSHari Pertama Penjaringan PWI Sumut, Tiga Kandidat Ambil Formulir Ketua PWI dan DKP
hendra·4 jam yang lalu -
Semua berita sudah ditampilkan