Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

dr. Azizy Gladylola Mastura, Jejak Bakti Sang Putri Jenderal

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
dr. Azizy Gladylola Mastura, putri kedua Mayjend Achmad Daniel Chardin [Mantan Pangdam I/Bukit Barisan yang juga pernah menjabat Kasdam Iskandar Muda].

Di bawah ufuk kaki langit Yogyakarta, saga tersenyum. Cahayanya menembus semarak Graha Sabha Pramana, di Universitas Gadjah Mada

Rabu 30 Juli 2025, menyibak babak baru perjalanan karier dan kehidupan seseorang.

‘Geliat’ dimulai dengan upacara sakral, Sumpah Dokter Periode IV Tahun Akademik 2024/2025, dipersembahkan bagi dara belia, namanya dr. Azizy Gladylola Mastura.

Baca Juga : Affan Kurniawan Pemuda Sederhana yang Kematiannya Menjadi Duka se-Indonesia

Dara ‘ranum’ itupun melangkah bersahaja menuju mimbar pengabdian. 

dr. Azizy Gladylola Mastura, putri kedua Mayjend Achmad Daniel Chardin (Mantan Pangdam I/Bukit Barisan yang juga pernah menjabat Kasdam Iskandar Muda).

dr. Azizy Gladylola Mastura, putri kedua Mayjend Achmad Daniel Chardin [Mantan Pangdam I/Bukit Barisan yang juga pernah menjabat Kasdam Iskandar Muda].

Hari penobatan ini, bukan hanya menjadi milik Azizy, tetapi juga milik keluarga besar yang menyaksikan buah dari doa dan perjuangan panjang bersemi di hadapan mata.

Baca Juga : ANJANI

Dalam perpesanan singkat sarat makna, sang ayah menoreh bait kata dengan haru; [Lusa Sumpah Dokter puteri saya ke-2, Azizy... Alhamdulillah...Siap untuk memulai pengabdiannya untuk masyarakat yang butuh kemampuan dokter. Semoga berkah...Aamiin YRA...].

Begitu ‘sengau’ goresan makna di layar petak berukuran 8x10 centimeter dari Mayjend Achmad Daniel Chardin.

Gumamnya di sanubari; keberhasilan anaknya bukan semata gelar, melainkan awal dari tanggung jawab besar. Tak lagi di medan tempur, tapi di medan kemanusiaan untuk mendengarkan, merawat, dan menyembuhkan.

Baca Juga : Surat dari Ayah

Di senyapnya temaram ujian, riuhnya laboratorium dan ruang kuliah yang tak kenal waktu adalah ‘asabat’, Azizy untuk memupuk mimpinya dalam diam.

Asabat yang dahulu samar, mulai menjelma nyata. Disegenap ‘gestur’ potret diri.

Menggelayut atas pundaknya tertambat asa, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang atas hadirnya dokter muda ‘sempalan’ Mayjend Achmad Daniel Chardin. 

Baca Juga : RAJAWA

Azizy bukan hanya cerdas, tetapi sangat berempati dan rendah hati.

“Dengan penuh rasa syukur, kami persembahkan: dr. Azizy Gladylola Mastura. Di awal langkahnya menggapai asa, wujudkan bakti pada sesama.” demikian salah satu ungkapan keluarga menyambut kelulusan sang putri.

Warisan untuk Pengabdian yang Dulu Tertunda

Baca Juga : CERPEN: Kembali ke Kandang

Dalam dirinya, darah pengabdian mengalir kuat. Ayahnya seorang jenderal, terbiasa dengan disiplin dan dedikasi. Kini, Azizy memilih jalan berbeda namun sejiwa, yakni mengabdi pada masyarakat melalui ilmu dan layanan medis.

Menjadi dokter bukan hanya tentang menguasai ilmu, tetapi memahami makna yang hadir, bagi mereka yang lemah dan butuh harapan. Itulah tantangan sekaligus kehormatan yang kini berada dalam genggamannya.

Sumpah yang Menjadi Janji

Baca Juga : Suara Kayu Sepeda Menjadi Doa Dikesunyian Perkotaan

Upacara sumpah dokter bukan sekadar formalitas akademik. Ia adalah titik nadir dimulai kariernya, ketika seseorang memilih untuk mengikatkan diri pada sumpah moral dan kemanusiaan. Bahwa ilmu yang dipelajari selama bertahun-tahun kini harus memberi manfaat, bukan hanya gelar.

Dan Azizy telah mengambil sumpah itu, di tengah puluhan rekan sejawatnya, di hadapan para dosen, keluarga, dan Tuhan.

Keluarga Mayjend Achmad Daniel Chardin [Mantan Pangdam I/Bukit Barisan yang juga pernah menjabat Kasdam Iskandar Muda].

Semoga saja ‘Nur Hu’, memberi dan membawa perubahan atas jasa medis pada diri Azizy. Pengabdianmu dinanti ribuan pasang mata yang butuh kesembuhan, atas izin-Mu izin-Mu ya Nur Hu Limpah. Aaamiiin... (*) 

Penulis: Mr L (RPH)