Surat dari Ayah
Sebab, ketika engkau berguna bagi umat Allah, berarti Allah tak sia-sia menitipkan engkau kepadaku.
Dermaga tempatmu berpijak terakhir kali, Masih aku pantau. Tak hanya saat matahari menyilaukan cahayanya di ufuk Timur. Bahkan, saat para bintang malu-malu untuk hiasi langit malam, aku sesekali masih memantaunya.
Ya, begitulah rutinitasku, ketika engkau tidak lagi di kota ini. Dan, hanya itu pula yang bisa aku lakukan.
Sama halnya ketika engkau masih belum lulus SMA, dari balik tirai pintu kamarmu, aku diam-diam melihat wajahmu yang lelah sedang tertidur.
Saat itu juga, hatiku berucap kepada Allah SWT. "Ya Allah, jadikan anakku, anak yang berguna bagi umatmu." Cuma itu saja pintaku kepada Allah SWT.
Sebab, ketika engkau berguna bagi umat Allah, berarti Allah tak sia-sia menitipkan engkau kepadaku.
Karena, sepanjang pengetahuanku tentang agama yang kita yakini, orang sia-sia merupakan orang yang merugi di muka bumi ini.
Jadi, untuk anakku tercinta dan tersayang. Bukan aku tidak ingin mengabari melalui gawai atau media digital apapun.
Bukan aku sombong, dan tak peduli kepadamu. Karena, aku tahu, anak lelaki itu harus bisa berdiri tanpa dukungan siapapun. Sebab, dukungan Allah SWT lebih daripada cukup untuk bekalmu di lautan kehidupan ini.
Aku juga ingin katakan kepadamu anakku, diriku bukan tidak rindu kepadamu. Aku rindu, aku sangat rindu, bahkan aku ingin menciummu dan memelukmu, merasakan kehangatanmu seperti pertama kali aku meng-adzankanmu.
Jadi, jangan pernah kecil hati, aku tak menghubungimu seperti orang tua kawan-kawanmu, yang biasa menyapa dengan kasih sayang, melalui selulernya setiap hari.
Tapi, bersyukurlah, aku masih bisa mendoakanmu di setiap seperempat malam dan di setiap sujudku kepada Allah SWT.
Masih ingatkah kau, waktu engkau masih di duduk di taman kanak-kanak (TK), di sebuah pelataran TK-mu, engkau pernah mengucapkan ini.
"Ayah, bila aku sudah besar nanti dan berada jauh darimu, jangan lupa doakan aku terus, karena kata ibu guru, doa ayah dan ibu untuk anaknya, selalu dikabulkan Allah," pintamu.
"Ya, ayah akan selalu mendoakanmu jadi anak yang berguna bagi umat dan alam semesta," kataku waktu itu.
Kemudian, engkau katakan, "Aamiin." Namun, engkau mempertanyakannya, mengapa doa ayah seperti itu.
Kenapa doa ayah tidak seperti doa ibu temanmu Ilham, dan doa ayah temanmu yang bernama Lili.
"Doa ayah kok beda, doa ibu Ilham itu, doanya anaknya jadi presiden. Itu juga doa ayah Lili, doain anaknya jadi menteri," katamu dengan suaramu masih celet.
Teru aku bilang, "Kalau doaku seperti mereka, berarti aku bukan ayahmu. Karena, kalau aku doakan engkau jadi menteri dan presiden tetapi tidak berguna bagi umat, buat apa."
"Jadi, bermanfaat bagi umat itu, lebih baik daripada jadi presiden dan menteri, jika tidak berguna bagi umat," kataku kepadamu yang lalu engkau terus bertanya kembali.
(bersambung)
Akhyar Giantoro
Jakarta
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSALAMP AKSI Desak Kejari Medan Usut Dugaan Korupsi Proyek Alat Berat Rp11,4 Miliar di DLH
hendra·14 menit yang lalu -
POLITIKHensa Usul Suara Parpol di Bawah Parliamentary Threshold Digabung agar Tak Terbuang
hendra·41 menit yang lalu -
SUMSELTinjau Ruas Jalan Pagar Alam-Tanjung Raya, Gubernur Sumsel Pastikan Perbaikan Fungsional Dimulai Tahun Ini
hendra·1 jam yang lalu -
EKONOMIIHSG Diprediksi Kembali Tertekan, Investor Menanti Keputusan Suku Bunga BI Hari Ini
hendra·1 jam yang lalu -
SUMSELKejar Target Digitalisasi Bansos 2026, Pemprov Sumsel Dorong Optimalisasi Agen Perlinsos
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSTidak Hanya Selingkuh, IA Kepala SPPG di Tebingtinggi Diduga Telantarkan Istri dan Anak
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSOTT PPPK Banyuasin Jadi Alarm, DPR Soroti Pengawasan Dana Revitalisasi Sekolah Rp14 Triliun
hendra·2 jam yang lalu -
-
NEWSKejagung Periksa 2 Pegawai Kementerian ESDM dalam Kasus Dugaan Ekspor Ilegal 390 Ton LTJ
hendra·3 jam yang lalu -
NEWSPetugas Potong Pohon Terjatuh di Lapangan Merdeka Binjai, Tangan Patah dan Kepala Luka
hendra·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan