Desa Bair Menghilang: Warga Ceritakan Detik-Detik Longsor Memusnahkan Satu Desa di Tapanuli Tengah
Desa Bair di Tapteng hilang akibat longsor dan banjir bandang, warga selamat sebagian, evakuasi korban masih berlangsung.
Nusantaraterkini.co,TAPANULI TENGAH - Desa Bair di Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut), hanya tersisa sebagai koordinat di peta. Senin (8/12/2025) desa yang berpuluh tahun berdiri di lereng hutan pegunungan itu telah hilang tertimbun longsor dan banjir bandang yang menerjang dalam bencana besar di Pulau Sumatera.
Material tanah dari punggungan bukit, batang-batang kayu raksasa yang tercabut bersama akar, serta limpasan air dari hulu sungai menggulung seluruh permukiman warga pada Rabu (27/11/2025) sekitar pukul 17.00 WIB. Tidak ada satu pun bangunan yang tersisa di inti desa.
Baca Juga : Presiden Prabowo Subianto Menyambangi Tapanuli Tengah, Beri Jaminan Penanganan Darurat Bencana
Menurut penuturan Rokki Hutagalung (31), warga Desa Bair, proses bencana tidak datang secara tiba-tiba. Sehari sebelumnya, Selasa (25/11/2025), sekitar pukul 17.30 WIB, warga mulai melihat sejumlah titik longsor di dinding bukit di atas permukiman. Tanah yang biasanya padat perlahan-lahan mulai bergerak. Air sungai yang biasanya tenang mengalir berubah keruh.
"Kelihatan dari jauh tanah di atas sudah pecah-pecah. Ada suara kayak kerikil jatuh. Kami sadar itu bukan hal biasa," kata Rokki saat ditemui di lokasi pengungsian.
Kondisi itu, katanya, membuat warga berembuk. Sekitar satu jam kemudian, mereka sepakat meninggalkan rumah dan berkumpul di satu-satunya gereja yang berdiri di titik paling aman di desa. Bangunan itu berada pada lokasi lebih tinggi dan tidak langsung menghadap bukit.
Sebagian besar warga, puluhan keluarga, berhasil mencapai gereja sebelum malam. Namun tujuh orang lelaki dewasa memilih tinggal di desa untuk berjaga dan memantau situasi. Mereka hendak memastikan apakah desa sepenuhnya harus dikosongkan atau masih ada kemungkinan bertahan.
"Itu kebiasaan kami. Kalau ada apa-apa, selalu ada yang tinggal memantau. Tapi kali ini bencana datang terlalu besar," ujar Rokki.
Sejak malam hingga keesokan harinya, hujan turun tidak henti. Tanah yang retak melebar. Hingga Rabu sore, sekitar pukul 17.00 WIB, suara gemuruh terdengar dari arah hulu. Apa yang kemudian terjadi, menurut Rokki, sulit digambarkan dengan kata-kata singkat.
"Suara itu kayak puluhan pohon tumbang sekaligus. Kami lihat dari jauh, tanah besar turun dari atas. Air ikut membawa pohon-pohon besar," kata dia.
Baca Juga : Komunikasi Lumpuh, Perantau Tapteng di Medan Resah dan Buka Posko untuk Saling Menguatkan
Dalam hitungan detik, material longsor menerjang pusat desa. Puluhan rumah yang selama ini berdiri di tepi sungai dan lereng bukit tersapu bersih. Tidak ada kesempatan menyelamatkan barang berharga. Rumah-rumah warga, kandang ternak, bale-bale kayu, hingga fasilitas kecil desa hilang seketika ditelan tanah.
Desa Bair selama ini dikenal sebagai desa kecil yang hidup dari hutan tanpa merusaknya. Warga menggantungkan hidup pada hutan seperti, memanfaatkan getah pohon, yang mereka kumpulkan dari hutan sekitar. Tidak ada praktik penebangan besar. Tidak ada ekspansi kebun komersial seperti yang umum dilakukan perusahaan-perusahaan besar.
Ia mengaku bingung melihat bagaimana tanah yang mereka kenal sebagai desa yang sejuk bisa tiba-tiba hancur seluruhnya. Sebagian warga menilai hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama.
"Semenjak nenek moyang kami di sini, tidak pernah ada bencana sebesar ini," ujar Rokki.
Hingga kini, petugas gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan masih berupaya menembus material longsor yang menimbun seluruh area desa. Mereka terlihat menggunakan alat sederhana tanpa adanya alat berat, petugas memanfaatkan air sungai untuk membersihkan titik yang diduga sebagai tempat tertimbunnya warga.
Sejauh ini, sebanyak tiga orang meninggal dunia telah dievakuasi. Sementara empat orang lainnya yang tertimbun, hingga kini diduga masih tertimbun.
Ratusan warga desa Bair, saat ini, telah berada di Dusun Hajoran, Desa Tapian Nauli 4, Kecamatan Tapian Nauli. Sepekan mereka bertahan di Gereja Huria Kristen Indonesia, warga desa bertahan dengan banyuan-bantuan logistik yang diserahkan langsung oleh sejumlah relawan dan warga sekitar. Beberapa dari pemerintah setempat.
Baca Juga : Sepuluh Korban Jiwa di Desa Sialogo Tak Masuk Data Pemkab Tapteng
Camat Tapian Nauli, Harrys Sihombing, saat ini, mengatakan kebutuhan para pengungsi tidak lagi tentang logistik melainkan tempat ungsian baru, kebutuhan bayi, serta kebutuhan khusus perempuan seperti pembalut.
"Yang paling utama pampers untuk anak-anak, pembalut juga, karena itu kebutuhan dasar," katanya.
Sebagai camat, dia mengaku jika bantuan-bantuan seperti itu, sangat dibutuhkan saat ini.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANAparat Gabungan Razia Rutan Kabanjahe, Ratusan WBP Dites Urine
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
NEWSHendak Dipulangkan dari Arab Saudi, Warga Lhokseumawe Muhammad Iksan Hilang Kontak
hendra·4 jam yang lalu -
NEWSKPK OTT Bupati Bolmut Sirajudin Lasena, 14 Orang Diamankan Terkait Proyek PUTR
hendra·5 jam yang lalu -
NEWSKetua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus Diperiksa Polda, Diduga Terkait Kasus Dhody Thahir
hendra·5 jam yang lalu -
PERISTIWAHujan Deras dan Angin Kencang Diduga Picu Banjir Bandang Solok, Rumah Warga Terdampak
hendra·6 jam yang lalu -
PERISTIWAJalur Padang-Solok Putus Total Diterjang Banjir Bandang, Pengendara Dialihkan via Padang Panjang
hendra·7 jam yang lalu -
PERISTIWABanjir Bandang Terjang Pusat Pemerintahan Kabupaten Solok, Sejumlah Kantor Terendam
hendra·7 jam yang lalu -
KOTA MEDANFraksi PDIP Soroti Keterlambatan Ranperda Pajak dan Tingginya Biaya PBG Medan
hendra·8 jam yang lalu -
PENDIDIKAN5 Kepala SD Negeri di Tebingtinggi Dicopot, Diduga Terkait Dana Revitalisasi Sekolah
hendra·8 jam yang lalu -
KRIMINALGeger! Jasad Bayi Perempuan Ditemukan dalam Bungkusan Kain Merah di Tembung
hendra·9 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan