Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Bobby Nasution Diminta Hentikan Sementara Proyek Turap Sungai di Tapteng, Besi Berkarat Jadi Sorotan

Robert Hutagalung meminta Bobby Nasution menghentikan sementara proyek turap sungai di Tapteng karena material besi berkarat disorot.

Bagikan:
Robert Hutagalung saat melihat kondisi steel sheet pile yang telah terpancang dalam kondisi berkarat, di pinggiran Sungai Siaili, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. (Foto : Jasman Julius Mendrofa/ Nusantaraterkini.co).
Robert Hutagalung saat melihat kondisi steel sheet pile yang telah terpancang dalam kondisi berkarat, di pinggiran Sungai Siaili, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. (Foto : Jasman Julius Mendrofa/ Nusantaraterkini.co).
A A

Nusantaraterkini.co,ย TAPTENG โ€“ Kualitas pengerjaan sejumlah proyek pemasangan besi penahan bantaran sungai pascabencana di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, menuai sorotan. Material besi yang diduga tidak memenuhi standar teknis menjadi alasan agar pengerjaan proyek tersebut dievaluasi dan dihentikan sementara.

Desakan itu disampaikan Robert Hutagalung, Presidium Generasi Muda Hutagalung, setelah meninjau langsung proses pemancangan besi penahan bantaran sungai di sejumlah lokasi.

Robert menilai penggunaan material besi yang sudah berkarat dan langsung dipancang tanpa perlindungan tambahan berpotensi memengaruhi kekuatan serta usia pakai konstruksi.

"Besi dalam kondisi berkarat, langsung dipancang tanpa memikirkan efek berapa lama ketahanan besi tersebut menahan bantaran sungai nantinya," ujar Robert, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, material steel sheet pile atau turap baja yang mengalami korosi perlu mendapatkan penanganan terlebih dahulu sebelum dipasang. Salah satu langkah yang disarankannya adalah pemberian lapisan pelindung epoxy untuk membantu mencegah kerusakan akibat korosi.

Ia pun meminta Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, mengambil langkah evaluasi dengan menghentikan sementara pengerjaan proyek-proyek tersebut hingga aspek kualitas material dan standar teknisnya dipastikan.

Robert mengingatkan, penggunaan besi tanpa perlindungan memadai di kawasan bantaran sungai berisiko mempercepat korosi. Kondisi tersebut dapat dipicu tingginya kelembapan, genangan air, serta gesekan material seperti batu, pasir dan lumpur ketika banjir terjadi.

Risiko kerusakan dinilai semakin besar karena wilayah Tapteng dan Kota Sibolga berada di kawasan Pantai Barat Sumatera. Sejumlah aliran sungainya berdekatan dengan laut sehingga berpotensi terpapar air payau maupun air laut yang mengandung garam dan dapat mempercepat proses korosi.

"Tapteng dan Sibolga berada di posisi Pantai Barat, yang sungainya berdekatan dengan laut. Ketika air pasang, air sungai bisa bercampur dengan air laut yang memiliki kandungan garam penyebab korosi paling cepat," jelasnya.

Sebagai warga Tapteng sekaligus penyintas banjir yang merasakan langsung dampak bencana pada 2025 lalu, Robert berharap seluruh proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, baik yang dibiayai pemerintah provinsi maupun kementerian, dikerjakan dengan perencanaan matang.

Menurutnya, penelitian kondisi lingkungan dan pemilihan material harus menjadi perhatian utama agar pembangunan infrastruktur benar-benar mampu melindungi masyarakat dari ancaman bencana berikutnya.

"Bila proyek ini asal-asalan, masyarakat Tapteng dan Sibolga juga yang akan merasakan dampaknya di kemudian hari," tegasnya.

Robert juga menilai penggunaan material dengan ketahanan korosi lebih baik perlu dipertimbangkan. Salah satu alternatif yang disebutkannya adalah baja galvanis dengan metode Hot-Dip Galvanized (HDG), yang memiliki lapisan seng sebagai pelindung permukaan baja.

Selain itu, ia menyebut bronjong atau gabion dengan kawat berlapis galvanis serta turap beton sebagai alternatif konstruksi penahan bantaran sungai yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi teknis dan karakteristik lokasi.

Ia menjelaskan, material galvanis memiliki keunggulan dari sisi perlindungan terhadap korosi dan dapat membantu menekan kebutuhan perawatan dalam jangka panjang. Namun, biaya pengadaan awalnya relatif lebih tinggi dibandingkan besi tanpa pelapis.

Sebaliknya, penggunaan besi biasa dinilai berisiko menimbulkan biaya pemeliharaan lebih besar apabila korosi terjadi secara cepat. Apalagi, proses pengecatan ulang atau perawatan pada bagian konstruksi yang terendam air tidak mudah dilakukan.

"Semoga Gubsu Bobby dapat memperhatikan hal-hal terkait proyek yang ditangani provinsi, demi kebaikan masyarakat secara umum, khususnya Tapteng dan Sibolga setelah bencana 2025 lalu," tutup Robert.

(Jjm/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait