Kisah Pilu Rokki: Mencari Ayah di Desa Bair Tapteng yang Lenyap Ditelan Longsor Bandang
Rokki mencari ayahnya di Desa Bair, Tapteng, yang hancur karena longsor. 19 desa terisolir. Bupati sebut deforestasi sawit pemicunya
Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Setiap langkah yang diambil Rokki Hutagalung (31) selama dua minggu terakhir selalu mengarah ke satu titik yaitu, hamparan tanah longsor yang diatasnya terdapat batu besar yang dulu ia sebut sebagai kampung halaman.
Di situlah ayahnya, ia percaya, tertanam bersama tiga warga Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah yang hingga hari ini belum ditemukan.
Sejak bencana besar melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada akhir November 2025, Rokki meninggalkan kehidupannya di Batam anak, istri, dan pekerjaannya untuk satu alasan mencari ayahnya, dalam keadaan atau kondisi apa pun.
Mata lelaki itu tampak merah, kulitnya juga tampak menjadi coklat kemerahan. Kakinya dipenuhi dengan tanah, begitupun pada bagian jemarinya yang diselimuti lumpur yang sudah tampak mengering.
Baca Juga : Enam Rumah Hilang Satu Rusak Parah Usai Banjir di Tapteng, Warga Sebut Dihantam Gelondongan Kayu
“Saya hanya ingin ayah saya ditemukan. Hidup atau meninggal, saya ingin ayah saya dikebumikan dengan layak,” katanya pelan kepada Nusantaraterkini.co di Desa Bair, Jumat (12/12/2025) sore.
Sekitar pukul 13.50 WIB Desa Bair kini bukan lagi suara ayam atau dentingan panci dari dapur. Yang terdengar hanya deru alat berat, semprotan air, bunyi cangkul yang menghantam tanah keras, dan sesekali teriakan meminta warga menjauh ketika tim evakuasi tiba-tiba butuh ruang.
Rokki duduk tepat ditengah jalan yang dulu digunakan warga. Diantarnya tampak sisa-sisa pondasi rumah. Dari sana, dia bisa menyaksikan tim yang bekerja terlambat itu. Mereka membuka satu per satu lapisan tanah yang menimbun desa.
Untuk menuju lokasi, Rokki harus berjalan dari desa tetangga, karena akses jalan utama diputus oleh longsoran pertama. Hampir dua minggu, ia merasakan perubahan bentuk desa jalan setapak yang dulu ada, hari ini lenyap, sungai yang kemarin mengaliri desa, hari ini tertimbun.
"Puluhan tahun lalu nenek moyang kami membuka kampung ini. Dan ini kejadian yang paling dahsyat sebelumnya belum pernah," ujarnya.
Ketika bencana terjadi, Rokki berada 1.400 kilometer dari rumah di Batam. Tiga hari setelah longsor, dia mendapat kabar yang membuat lututnya hampir menyerah.
Baca Juga : Akses PLTA Sipan Sihaporas Tapteng Tertimbun, Warga dan Perusahaan Kerahkan Dua Alat Berat
Dalam hitungan jam, ia sudah berada dalam perjalanan pulang. Istrinya tak menahan, anaknya menangis saat di pelabuhan.
"Dari Batam saya paksain pulang, apapun ceritanya," katanya mengenang.
Sesampainya di Tapanuli Tengah, ia langsung menuju rumah kerabat. Ia kemudian meminta diantar ke lokasi pencarian. Iparnya, kemudian menunjukkan jalan. Mereka menuju desa yang berada diketinggian 73 meter diatas permukaan laut (Mdpl)
Hari-hari berikutnya, petugas sempat mendatangi lokasi. Tapi, mereka berbalik. Kata Rokki, karena akses jalan yang sulit. Sebab ditengah jalan desa Aloban-desa yang berada dibawah Bair, terdapat timbunan longsor.
Ia menggali bersama warga desa lain dan desa tetangga, mereka mengumpulkan serpihan rumah, sepeda motor, lemari dan kadang menemukan barang-barang yang membuatnya berhenti sejenak. Semuanya dilakukan dengan alat seadanya.
"Kami berhasil menemukan satu orang," katanya.
Desa Bair adalah salah satu desa yang paling hancur akibat longsor dan banjir bandang. Dari puluhan rumah, hanya tiga yang masih berdiri meski rusak berat. Sisanya lenyap hilang di bawah material yang tebal itu.
Baca Juga : Jembatan Bailey Anggoli Tapteng Rampung 100 Persen, Akses Warga Pulih
Sungai yang dulu mengalir tenang di sisi desa kini berpindah jalur. Di satu bagian, tanah terlihat retak memanjang seperti garis yang membelah bumi dan dialiri oleh air. Bagi warga yang kembali, rasa asing lebih besar daripada rasa takut.
"Kampung kami sudah lenyap," ujarnya.
Ayah Rokki, seorang petani, dia bersama enam orang warga lainnya tinggal di desa untuk berjaga-jaga. Namun, tanpa aba-aba, tumpukan tanah yang tadinya tertahan oleh pohon-pohon justru diterjang air besar. Tujuh orang dilaporkan tertimbun, sementara tiga lainnya telah ditemukan meninggal dunia.
"Padahal warga tak pernah menebang pohon sembarangan," katanya.
Dalam budaya Batak pesisir, upacara pemakaman adalah bagian penting dari penghormatan keluarga terhadap leluhur. Ketika jenazah tidak ditemukan, keluarga merasa seperti hidup dalam ruang kosong.
“Bagaimana kami mau menabur bunga kalau makamnya tidak ada?” kata seorang tetua desa.
Rokki memahami hal itu baik-baik. Karena itu ia bersikeras terus datang ke lokasi. Ada sebagian warga yang mulai pasrah, ada yang mulai membangun rumah sementara, tetapi Rokki memilih menunggu.
“Selama alat berat masih bekerja, saya akan terus datang,” katanya.
Pada Selasa siang, sekitar pukul 15.30 WIB hujan turun deras, dan saat bersamaan lereng-lereng gunung mulai menunjukkan tanda-tanda longsor. Warga bersiaga hingga berganti hari. Namun, kata Rokki, hujan tak kunjung reda sampai Rabu (26/11/2025) dinihari.
Kondisi tersebut, membuat seluruh warga mengungsi ke satu-satunya rumah ibadah yang ada di desa Bair. Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik IX Sibolga-Tapteng, Desa Bair, ditempati sementara oleh para warga saat itu. Kebetulan gereja berdiri di lokasi tinggi dan jauh dari jangkauan longsor dan banjir.
Seiring proses evakuasi yang berlangsung, warga desa masih trauma dengan kondisi itu. Hujan deras yang berlangsung satu hari satu malam yang berujung bencana longsor dan banjir itu, membawa material batu, tanah dan kayu besar membuat desa lenyap. Warga desa yang menyaksikan masih trauma.
Sebanyak 43 rumah warga tertimbun, sementara 33 rumah lainnya hanyut terbawa banjir. Longsor dan banjir tersebut, bukan hanya menghilangkan desa Bair tetapi juga menghantam desa Aloban, yang berada di bawah Bair. Air serta material longsor merusak sebagian besar rumah-rumah penduduk desa Aloban.
Kini, para penyintas mengungsi di Gereja HKI yang berlokasi Desa Tapian Nauli IV, Kecamatan Tapian Nauli. Sementara warga lainnya, memilih tinggal di rumah kerabat.
Bantuan-bantuan logistik berupa beras, air mineral, hingga susu untuk anak-anak, terus berdatangan. Namun, mereka kekurangan alas tidur. Di lokasi pengungsian, bukan hanya lansia atau anak-anak saja yang bertahan. Penyandang disabilitas juga ada. Namun, kebutuhan dasar mereka tidak ada.
Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, mengungkapkan hingga kini masih terdapat 19 desa dan satu kecamatan yang terisolir akibat banjir dan longsor besar yang melanda sejak 25 November 2025. Kondisi tersebut membuat Pemkab Tapteng memperpanjang masa tanggap darurat selama 14 hari ke depan.
Adapun desa-desa yang belum dapat diakses yakni Simarpinggan, Panggaringan, Sialogo, Parjalihotan Baru, Muara Sibuntuon, Bonan Dolok, Mardame, Naga Timbul, Rampa, Simaninggir, Nauli, Bair, Aloban, Mela Dolok, Tapian Nauli Saur Manggita, Sigiring-giring, Sait Nihuta Kalangan B, Hutanabolon, dan Sipange.
Masinton menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat berat untuk membuka akses dan menormalisasi sungai yang tertutup material kayu serta lumpur akibat banjir bandang.
“Kami butuh alat berat, ekskavator, beko, beko loader lengkap dengan penjepit kayu untuk membuka akses dan menurunkan debit air,” kata Masinton.
Menurutnya, tujuh aliran sungai di Tapteng kini dipenuhi gelondongan kayu dan sedimen. Akibat penyumbatan tersebut, aliran air meluap keluar dari jalur sungai hingga menggenangi rumah-rumah warga.
Masinton memperkirakan kayu yang menumpuk telah mencapai ratusan ribu kubik. Berdasarkan tinjauannya selama sembilan bulan menjabat, banyak perbukitan di Tapteng berubah menjadi kebun sawit, sementara hutan dibabat hingga meninggalkan tumpukan batang kayu.
“Saya cek langsung ke bukit-bukit. Banyak yang dikeruk, hutan dipotong pakai senso lalu ditanami sawit. Data BPS juga mencatat deforestasi Tapteng melonjak dari sekitar 16 ribu hektar pada 2023 menjadi lebih dari 40.800 hektar pada 2024,” ungkapnya.
(Cw7/Nusantararerkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANAparat Gabungan Razia Rutan Kabanjahe, Ratusan WBP Dites Urine
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
NEWSHendak Dipulangkan dari Arab Saudi, Warga Lhokseumawe Muhammad Iksan Hilang Kontak
hendra·4 jam yang lalu -
NEWSKPK OTT Bupati Bolmut Sirajudin Lasena, 14 Orang Diamankan Terkait Proyek PUTR
hendra·5 jam yang lalu -
NEWSKetua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus Diperiksa Polda, Diduga Terkait Kasus Dhody Thahir
hendra·6 jam yang lalu -
PERISTIWAHujan Deras dan Angin Kencang Diduga Picu Banjir Bandang Solok, Rumah Warga Terdampak
hendra·7 jam yang lalu -
PERISTIWAJalur Padang-Solok Putus Total Diterjang Banjir Bandang, Pengendara Dialihkan via Padang Panjang
hendra·7 jam yang lalu -
PERISTIWABanjir Bandang Terjang Pusat Pemerintahan Kabupaten Solok, Sejumlah Kantor Terendam
hendra·8 jam yang lalu -
KOTA MEDANFraksi PDIP Soroti Keterlambatan Ranperda Pajak dan Tingginya Biaya PBG Medan
hendra·9 jam yang lalu -
PENDIDIKAN5 Kepala SD Negeri di Tebingtinggi Dicopot, Diduga Terkait Dana Revitalisasi Sekolah
hendra·9 jam yang lalu -
KRIMINALGeger! Jasad Bayi Perempuan Ditemukan dalam Bungkusan Kain Merah di Tembung
hendra·10 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan