Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Senin (25/11/2024) Indeks utama Wall Street ditutup menguat dengan indeks Russell 2000 yang berfokus pada saham-saham berkapitalisasi kecil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Diketahui, penguatan ini didorong oleh penunjukan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) yang meredakan tekanan pada imbal hasil obligasi.
Baca Juga : IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Namun Dibayangi Tekanan Pasar Global
Perhatian pasar juga tertuju pada pembicaraan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang menekan harga minyak dan menyebabkan sektor energi melemah hingga 2%.
BACA: Harga Emas Spot Turun 0,2% ke Level US$2.621,06 Per Ons Troi Dipicu Oleh Penguatan Dolar AS
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, indeks S&P 500 naik 17,81 poin (0,30%) menjadi 5.987,15.
Baca Juga : IHSG Melemah Ikuti Tekanan Bursa Asia dan Global, Pasar Tunggu Rilis Data Ekonomi
Nasdaq Composite naik 51,50 poin (0,27%) ke 19.055,15, dan Dow Jones Industrial Average melonjak 439,02 poin (0,99%) menjadi 44.735,53.
BACA: Kurs Rupiah Melemah 0,2% di Level Rp15.913 Per Dolar AS di Awal Perdagangan Selasa (26/11/2024)
Saham yang menguat melebihi saham yang melemah dengan rasio 3,01 banding 1 di NYSE. Tercatat ada 836 saham mencetak level tertinggi baru, sementara 40 saham mencapai level terendah baru.
Baca Juga : Wall Street Kembali Ditutup Bervariasi dengan Indeks S&P 500 Menguat dan Nasdaq Kembali Melemah
Indeks Russell 2000 mencatat rekor intraday baru di 2.466,49, melampaui level tertinggi yang dicapai tiga tahun lalu.
BACA: Harga Minyak Mentah Bertahan Dekati Level Tertinggi Dalam Dua Minggu Setelah Kenaikan 6% Minggu Lalu
Penurunan tajam imbal hasil obligasi, terutama obligasi 30 tahun, menjadi pendorong utama penguatan indeks ini.
Baca Juga : Wall Street Bertengger Di Zona Hijau Terkerek Dari Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Tambahan Oleh The Fed
"Area yang tertinggal sepanjang tahun ini mulai menunjukkan performa lebih baik, seperti saham berkapitalisasi kecil dan menengah, tidak hanya karena Trump, tetapi juga karena kebijakan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve," kata Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments.
Presiden terpilih Donald Trump mengakhiri spekulasi panjang terkait kandidat Menteri Keuangan dengan memilih Bessent pada Jumat malam.
Beberapa analis investasi mengatakan Bessent kemungkinan akan mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan utang pemerintah, sembari menjalankan kebijakan fiskal dan perdagangan sesuai janji kampanye Trump.
Baca Juga : Wall Street Pecahkan Rekor, Dolar AS Menguat
Penunjukan Bessent dinilai mengurangi kekhawatiran fiskal terkait kemungkinan tarif baru, yang sebelumnya memicu kenaikan imbal hasil obligasi menjelang pemilu.
"Fokus saat ini adalah pada kebijakan tarif, terutama setelah pilihan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan tampaknya meredakan kekhawatiran besar terkait fiskal," kata James Reilly, ekonom pasar senior di Capital Economics.
Selain itu, ekspektasi bahwa Trump bersama Kongres yang dikuasai Partai Republik akan menerapkan kebijakan yang mendukung dunia usaha memberikan angin segar bagi perusahaan kecil.
Tren ini diperkuat oleh siklus pelonggaran moneter The Fed yang dimulai pada September. Penurunan imbal hasil mendukung sektor properti yang sensitif terhadap suku bunga, sementara indeks perumahan melonjak hingga 4,5%. Saham sektor konsumer juga memimpin penguatan, dengan Amazon.com naik 2,2%.
Barclays menaikkan proyeksi indeks S&P 500 untuk akhir tahun 2025, sementara Deutsche Bank memperkirakan indeks akan mencapai 7.000 poin pada periode yang sama.
Meski demikian, kekhawatiran tetap ada terkait potensi tekanan inflasi yang dapat memperlambat laju pelonggaran kebijakan The Fed.
Berdasarkan alat FedWatch CME Group, ada probabilitas 56,2% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan Desember.
Laporan Personal Consumption Expenditure (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, akan menjadi perhatian utama investor pekan ini menjelang libur Thanksgiving di AS.
(nusantaraterkini.co/win)
