Nusantaraterkini.co, Singapura - Pada perdagangan Senin (25/11/2024) harga minyak bertahan mendekati level tertinggi dalam dua minggu setelah kenaikan 6% minggu lalu.
Hal ini, dikarena ketegangan geopolitik meningkat antara negara-negara barat dan produsen minyak utama Rusia dan Iran, meningkatkan risiko gangguan pasokan.
BACA: Harga Emas Antam Melorot Rp2.000 Dibanderol Rp1.539.000 per gram di Perdagangan Senin (25/11/2024)
Baca Juga : Dalam Sepekan, Minyak Mentah Brent Mencatat Kenaikan 2,9% Sedangkan WTI Naik 1,4%
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters di mana harga minyak mentah Brent berjangka naik 13 sen, atau 0,2%, menjadi US$ 75,30 per barel pada pukul 01.15 GMT.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berada pada US$ 71,38 per barel, naik 14 sen, atau 0,2%.
BACA: Harga Emas Spot Naik Tipis Mendekati Level Tertinggi Dalam Tiga Minggu Terakhir
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Mencapai Level Tertinggi Dalam Lebih Dari Tiga Bulan Pada Pembukaan di Awal Pekan Ini
Kedua kontrak tersebut minggu lalu mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak akhir September hingga mencapai level penyelesaian tertinggi sejak 7 November
Setelah Rusia menembakkan rudal hipersonik ke Ukraina sebagai peringatan kepada Amerika Serikat dan Inggris menyusul serangan Kyiv terhadap Rusia yang menggunakan senjata AS dan Inggris.
BACA: Bursa Saham Asia Pasifik Bertengger di Zona Hijau, Saham Australia Sentuh Rekor Tertinggi
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Dipicu Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Volodymyr Zelenskiy
"Pertukaran baru-baru ini menunjukkan perang telah memasuki fase baru dan berbahaya, yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan," kata analis ANZ yang dipimpin oleh Daniel Hynes dalam sebuah catatan.
Selain itu, Iran bereaksi terhadap resolusi yang disahkan oleh pengawas nuklir PBB pada hari Kamis dengan memerintahkan tindakan seperti mengaktifkan berbagai sentrifus baru dan canggih yang digunakan dalam pengayaan uranium.
"Kecaman IAEA dan tanggapan Iran meningkatkan kemungkinan bahwa Trump akan berupaya memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak Iran saat ia berkuasa," kata Vivek Dhar, seorang ahli strategi komoditas di Commonwealth Bank of Australia dalam sebuah catatan.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Turun Hampir US$1
Menurut Vivek Dhar, sanksi yang diberlakukan dapat menyingkirkan sekitar 1 juta barel per hari dari ekspor minyak Iran, sekitar 1% dari pasokan minyak global.
Kementerian luar negeri Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya akan mengadakan pembicaraan tentang program nuklirnya yang disengketakan dengan tiga negara Eropa pada tanggal 29 November.
Investor juga fokus pada meningkatnya permintaan minyak mentah di Tiongkok dan India, masing-masing negara pengimpor minyak terbesar dan ketiga di dunia.
Baca Juga : Pasar Minyak dalam Gejolak: Premi Risiko Geopolitik Iran dan Rebut Pasokan Venezuela
Impor minyak mentah China meningkat pada bulan November karena harga yang lebih rendah memicu permintaan stok.
Sementara kilang minyak India meningkatkan produksi minyak mentah sebesar 3% per tahun menjadi 5,04 juta barel per hari pada bulan Oktober, didorong oleh ekspor bahan bakar.
(nusantraterkini.co/win)
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Turun Tajam Hampir 2% Dipicu Tarif 50% Terhadap Produk Asal Uni Eropa
