Nusantaraterkini.co, MEDAN – Gelombang keresahan melanda Universitas Sumatera Utara (USU) setelah nama Rektor, Muryanto Amin, terseret ke meja pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sejumlah mahasiswa yang menyebut diri sebagai Marjinalis turun ke jalan, pada Rabu (20/8/2025) sore, menuntut kampus segera berbenah dari bayang-bayang skandal korupsi.
Aksi digelar di pintu satu USU, dari pukul 16.30 hingga 17.20 WIB. Mahasiswa membentangkan dua spanduk besar di depan akses utama, seolah mengingatkan publik bahwa universitas negeri tertua di Sumatera itu sedang berada di persimpangan reputasi.
Orasi bergantian dilantunkan, menyoroti runtuhnya marwah pendidikan ketika pucuk pimpinan justru dipanggil lembaga antirasuah.
Pantauan Nusantaraterkini.co, aparat keamanan kampus bersiaga di sekitar lokasi, sementara beberapa polisi berpakaian preman turut mengawasi jalannya aksi.
Mahasiswa menilai citra kampus kini kian tercoreng dan jika tidak segera ada langkah tegas, kepercayaan publik terhadap USU terancam runtuh. Mereka mendesak agar pimpinan universitas bertanggung jawab dan memastikan USU kembali ke jalurnya sebagai institusi pendidikan, bukan sarang polemik hukum.
Baca Juga : Rektor USU Diperiksa KPK soal Korupsi Jalan di Sumut, Pengamat: Kedepankan Asas Praduga Tak Bersalah
“Aksi kami ini berangkat dari sebuah keresahan yang ada sampai hari ini. Banyak ketidakadilan yang terjadi seperti kekerasan seksual yang terus beredar di USU, isu korupsi,” ujar Kibo salah satu peserta di lokasi.
Selain itu, mereka juga meresahkan isu kasus korupsi jalan di Sumut yang menyeret nama rektor USU, Muryanto Amin. Menurut mereka, hal itu sangat berkaitan langsung dengan kinerja rektor yang dinilai tidak profesional dan berpotensi merugikan nama baik universitas.
Mereka menilai seharusnya Majelis Wali Amanat (MWA) USU segera mengambil langkah konkret terkait kondisi tersebut.
“Seharusnya MWA sebagai aparat USU mengambil tindakan tegas untuk mencari pelaksanaan tugas ataupun mengganti rektor pada saat ini. Intinya semua bergerak pada keresahan-keresahan yang terus ditanam dan tidak diberikan kebebasan merekspresi di sini,” ucapnya.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
