Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pemkab Tapsel Terkesan Biarkan Jalan Rusak di Desa Sibara-bara

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Sofyan Akbar
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Aksi mahasiswa saat melihat kondisi jalan di Desa Sibara-bara, belum lama ini.(foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co,TAPANULI  SELATAN-Kerusakan jalan di Desa Sibara-bara, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut kini menjadi sorotan mahasiswa. Pasalnya, Pemkab Tapsel yang seharusnya menjadi pihak yang bertanggungjawab terkesan melakukan pembiaran.

"Pemerintah daerah telah gagal meberikan jaminan keselamatan dan mobilitas bagi rakyatnya sendiri," ujar Arga W, seorang mahasiswa yang aktif di PK PMII UNISU, Kamis (18/12/2025).

Baca Juga : PMI Padangsidimpuan Salurkan Bantuan dan Layanan Trauma Healing untuk Korban Banjir Tapsel

Dikatakannya, saat ini gerakan mahasiswa terus dimunculkan untuk mempertanyakan dan mendesak perhatian pemerintah. Gerakan mahasiswa ini mucul setelah melakukan penyaluran donasi untuk daerah yang terkena bencana alam, dimana akses jalan utama desa tersebut kini sudah menyerupai jalur maut. Menyaksikan bagaimana sekolah-sekolah yang belum aktif, di karnakan halaman dan kelas yang masih dipenuhi oleh lumpur.

Mahasiswa dari beberapa Ormawa mengecam keras atas sikap bungkam Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan yang hingga hari ini tidak memberikan tanggapan, apalagi tidakan nyata. Ketidakpedulian ini dianggap sebagai penghinaan terhadap warga Desa Sibara-bara.

"Kami melihat jalan yang memprihatikan sudah tidak layak disebut sebagai jalan lagi. Kami selaku mahasiswa bertanya-tanya apakah pemerintah daerah sedang tidur? Banjir sudah lama berlalu, tetapi tidak ada satu pun alat berat yang menyentuh jalan ini. Jangan salahkan kami jika mahasiswa barasumsi bahwa Pemerintah Tapsel sengaja membiarkan warganya tersiksa," tegas Arga W, saat memperlihatkan jalan yang penuh kubangan lumpur.

Proposal sudah diajukan, katanya, akan tetapi oleh pihak pemerintah tidak mendapat respon balik bahkan berkali-kali para warga minta untuk perbaikan akses jalan, tetap tidak ada respon yang pasti buat warga.
Warga mengeluh atas akses jalan tersebut, dan tidak dapat lagi bersuara. Setelah terjadi bencana banjir akses jalan makin memburuk. 

Sementara itu, mahasiswa dari Masyarakat Pelestarian Lingkungan ( MAPEL) menegaskan, pihaknya  tidak akan berhenti hanya pada tatapan kasihan. Mereka menuntut Dinas PUPR dan Bupati Tapanuli Selatan untuk segera memberikan pernyataan resmi dan melakukan tindakan darurat di lapangan.

“Kami tidak butuh ucapan janji, Warga Sibarabara butuh batu, butuh pengerasan jalan, butuh akses yang manusiawi. Kami mahasiswa yang menuntut keadilan bagi Sibara bara,” tegas Ketua MAPEL Arwanda Giffari.

Baca Juga : Kunjungi Desa Garoga Tapsel, Wapres Gibran Pastikan Korban Banjir Bandang Dapat Pelayanan Baik

Tokoh masyarakat, Dalman Nasution, mengatakan, kondisi Desa Sibara-bara kini menjadi simbol nyata ketimpangan pembangunan di daerah. Disaat pusat kota dipercantik, warga di pinggiran harus bertaruh nyawa di atas lumpur demi menyambung hidup, tanpa kepastian kapan pemeritah akan peduli.

“Kami tidak meminta untuk jalan ini di aspal licin, tetapi kami minta jalan kami ini untuk diratakan, agar kami bisa beraktivitas,” ungkapnya.

(Akb/Nusantaraterkini.co)