Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perang Dagang AS-China Tekan Daya Beli Petani di Sumut

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi petani cabai di Sumut. (Foto: dok Ist)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Harga sejumlah kebutuhan pokok di awal Mei mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Tren ini menandakan pelemahan daya beli masyarakat, terutama petani, di tengah tekanan eksternal akibat konflik dagang global yang masih berlangsung.

Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Kota Medan kini ditransaksikan Rp34.900 per kg, cabai rawit Rp24.700, bawang merah Rp36.200 dan bawang putih Rp38.200. Penurunan harga juga terjadi pada daging sapi yang turun sekitar Rp5.000 per kg ke kisaran Rp120 ribu–Rp140 ribu, serta minyak goreng curah yang terkoreksi hingga Rp5.000 per kg, dalam sebulan terakhir.

"Di saat harga pangan terkoreksi, nilai tukar petani (NTP) sebagai indikator daya beli petani juga menurun," ungkap Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumut, Jumat (9/5/2025).

Baca Juga: Indeks-indeks Utama Wall Street Menghijau Tanda-tanda Meredanya Ketegangan Perang Dagang AS-China

Dengan NTP April, lanjutnya, tercatat sebesar 141,18 atau turun 3,17%, dibandingkan Maret. Penurunan ini dipicu memburuknya NTP subsektor perkebunan rakyat yang anjlok 5% akibat penurunan tajam harga minyak sawit mentah (CPO).

Harga CPO di awal April masih berada di kisaran 4.430-an ringgit per ton, tetapi terus merosot hingga ke level 3.900-an ringgit di akhir bulan. Tren ini masih berlanjut di Mei, dengan harga CPO bertahan di angka 3.850-an ringgit per ton.

Penurunan harga CPO, menurut dia, tidak terlepas dari eskalasi perang dagang antara AS dengan China, yang memperluas dampaknya ke pasar komoditas. Terlebih, perang dagang AS-China memasuki babak baru setelah Negeri Tirai Bambu menaikkan tarif impor terhadap produk agrikultur dan energi asal AS.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terkoreksi Terkerek Perang Tarif Antara AS dan Tiongkok

Hal itu sebagai respons atas pembatasan ekspor semikonduktor dan teknologi canggih dari Barat. Ketegangan ini membuat negara-negara importir utama CPO menahan pembelian dan meningkatkan stok cadangan dalam negeri.

Kondisi itu mengakibatkan harga di pasar internasional terkoreksi. Indonesia, sebagai produsen CPO terbesar, ikut terkena dampaknya, termasuk wilayah Sumatra Utara yang basis ekonominya sangat tergantung pada kelapa sawit.

Selain subsektor perkebunan, NTP peternakan dan tanaman pangan juga terkoreksi. Harga daging ayam mengalami penurunan, sementara harga gabah tertekan akibat panen raya.

Hanya petani hortikultura yang sempat mencatat kenaikan NTP pada April berkat tingginya harga cabai yang menembus Rp60 ribu per kg. Namun, tren harga hortikultura saat ini pun mulai melandai, memperkecil peluang kenaikan NTP pada Mei.

Sementara itu, meski harga daging ayam mulai menguat, tetapi nilai tukar peternak juga belum sepenuhnya pulih. Pada April, NTP peternak masih berada di level 92,7, jauh dari angka ideal di atas 100 yang mencerminkan daya beli yang seimbang.

Perang dagang yang terjadi saat ini adalah konflik ekonomi antara AS dengan China, yang ditandai dengan pengenaan tarif impor oleh kedua negara terhadap produk masing-masing. Situasi ini dipicu peningkatan ketegangan antara kedua negara terkait perdagangan, yang kemudian saling balas dengan tarif.

(Yos/Nusantaraterkini.co)