Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dampak Perang Tarif, Emas Turut Jadi Penyumbang Inflasi Sumut

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Herman Saleh Harahap
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Emas (ilustrasi)

Nusantaraterkini.co, MEDAN-Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, merilis emas turut menjadi penyumbang inflasi Sumut di bulan Oktober 2025. Bahkan secara year on year, kelompok kelompok perawatan pribadi dan jasa
lainnya, yang salah satunya emas menjadi penyumbang terbesar inflasi Sumut.

Baca Juga : Tekan Inflasi, Pemprov Sumut Pantau Sejumlah Komoditas


Kepala BPS Sumut Asim Saputra, saat membacakan Berita Resmi Stastik (BRS), Senin (3/11/2025), memaparkan, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks sebagian besar kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 9,58 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,31 persen,  kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,79 persen, kelompok kesehatan sebesar 4,06 persen, kelompok transportasi sebesar 1,48 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,40 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,70 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,82 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,57 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 13,03 persen.

Khusus, di bulan Oktober 2025 (y on y) emas memberi andil inflasi sebesar 0,67 persen dari inflasi Sumut Oktober 2025 yang mencapai  4,97 persen. Meski dibandingkan September 2025,  Sumut mengalami deflasi  sebesar 0,20 persen, emas perhiasan masih memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumut Fitra Kurnia, mengungkapkan, pihaknya tidak bisa melakukan intervensi langsung terkait harga emas. 

"Operasi pasar yang kita lakukan hanya untuk bahan pokok dan komoditas penting di pasar. Kalau emas tidak bisa kita intervensi pasarnya," ungkap Fitra Kurnia, kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (4/11/2025). 

Baca Juga : Jelang Data Inflasi AS, Harga Emas Anjlok Lagi  

Menurutnya,  lonjakan harga emas dipengaruhi adamya perang tarif dua negara "penguasa" ekonomi dunia Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi ini, sebutnya, lebih meluas sebab kedua negara ini juga mengajak negara-negara mitranya untuk melakukan hal yang sama.

"Untuk emas, kita tidak bisa kendalikan sepenuhnya. Dampak perang tarif itu, pelaku pasar mengkoversi mata uang mereka kepada pembelian emas, yang mereka anggap lebih stabil dan lebih aman untuk dipegang. Jadi, mereka banyak yang  melepas mata uang asing itu untuk membeli emas," jelasnya.

(emn/nusantaraterkini.co)