Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Indeks-indeks Utama Wall Street Menghijau Tanda-tanda Meredanya Ketegangan Perang Dagang AS-China

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks-indeks utama Wall Street menguat didorong oleh tanda-tanda meredanya ketegangan perang dagang dengan China serta data ketenagakerjaan AS yang kuat, yang meredakan kekhawatiran pasar atas dampak ekonomi dari tarif tinggi.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (2/5/2025) Indeks-indeks utama Wall Street menguat didorong oleh tanda-tanda meredanya ketegangan perang dagang dengan China serta data ketenagakerjaan AS yang kuat, yang meredakan kekhawatiran pasar atas dampak ekonomi dari tarif tinggi.

Melansir Reuters, pukul 09.44 waktu setempat (ET), indeks Dow Jones Industrial Average naik 450,30 poin atau 1,10% ke 41.203,26. S&P 500 menguat 59,98 poin atau 1,07% ke 5.664,12, dan Nasdaq Composite naik 162,22 poin atau 0,92% ke 17.873,64.

Ketiga indeks utama AS tersebut menuju penguatan mingguan.

Baca Juga : AS-Iran Capai Kesepakatan Damai, Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah USD 80 per Barel

Saham-saham semikonduktor melonjak, mendorong sektor teknologi naik 3%. 

Saham-saham megacaps juga menguat, kecuali Apple dan Amazon.com yang membatasi kenaikan sektor teknologi.

Sebagai informasi, Beijing menyatakan sedang "mengevaluasi" tawaran dari Washington untuk menggelar pembicaraan terkait tarif impor sebesar 145% yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap produk China.

Baca Juga : Dilantik Jadi Bos The Fed, Kevin Warsh Janji Tak Tunduk pada Trump

Perang tarif yang berlangsung antara dua ekonomi terbesar dunia ini selama beberapa waktu telah membuat investor cemas, karena kedua belah pihak enggan terlihat mengalah dalam konflik dagang yang telah mengguncang pasar global.

Menambah sentimen positif, data terbaru menunjukkan jumlah pekerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) meningkat lebih besar dari perkiraan pada April, sementara tingkat pengangguran tetap di angka 4,2%.

"Ini adalah data ketenagakerjaan yang bagus dan menunjukkan bahwa perekonomian masih kuat," kata Melissa Brown, Managing Director di Simcorp.

"Kita mungkin akan melihat angka ini menurun saat dampak tarif benar-benar mulai terasa di perekonomian, tapi saat ini belum terjadi."

Saham Apple merosot 4,6% setelah perusahaan memangkas program pembelian kembali saham senilai US$10 miliar.

CEO Tim Cook juga memperingatkan bahwa tarif dapat menambah beban biaya hingga US$900 juta pada kuartal ini.

"Apple memang mencetak laba di atas ekspektasi, tetapi tidak cukup kuat untuk memberi kesan positif saat bisnis produk mereka masih penuh ketidakpastian. Apalagi pertumbuhan di segmen layanan juga mengecewakan," ujar Russ Mould, Direktur Investasi di AJ Bell.

Sementara itu, saham Amazon sedikit turun setelah memproyeksikan laba operasional kuartal kedua di bawah estimasi pasar.

Langkah Trump yang mencabut sebagian tarif baru-baru ini telah membantu pasar saham AS pulih dari tekanan sebelumnya.

Nasdaq bahkan kembali ke level tertinggi yang terakhir dicapai sebelum 2 April—yang dijuluki "Hari Pembebasan"—ketika Trump pertama kali mengumumkan tarif global besar-besaran.

Namun demikian, perubahan kebijakan tarif AS yang tidak menentu membuat banyak perusahaan memperingatkan potensi tekanan biaya atau bahkan menarik proyeksi laba mereka karena kekhawatiran akan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

(wiwin/nusantaraterkini.co)