Lawan Sabotase Energi: Havana Kecam Praktik Premanisme Global Amerika Serikat
Kuba mengecam Amerika Serikat atas tuduhan pemerasan global dan sabotase energi melalui ancaman tarif bagi negara pemasok minyak ke Havana.
Nusantaraterkini.co, HAVANA-Ketegangan diplomatik antara Havana dan Washington kembali memanas setelah pemerintah Kuba secara terbuka menuduh Amerika Serikat menjalankan praktik pemerasan global demi memutus urat nadi pasokan bahan bakar ke pulau tersebut. Melalui pernyataan resmi yang dirilis, Minggu (1/2/2026), Kuba mengutuk keras langkah sepihak AS yang kini mulai menyasar negara-negara ketiga yang masih menjalin kemitraan dagang dengan mereka.
Eskalasi ini dipicu oleh kebijakan terbaru Presiden Donald Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan hukuman bagi negara mana pun yang nekat mengirimkan minyak ke wilayah Kuba. Havana memandang perintah eksekutif yang diteken pada akhir Januari tersebut sebagai bentuk agresi ekonomi yang dipenuhi narasi menyesatkan.
Kuba secara tegas menolak klaim Washington yang menyebut keberadaan mereka sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional AS. Pihak Kuba menilai pola ancaman ini mencerminkan arogansi kekuasaan yang mengabaikan kedaulatan bangsa lain.
“Begitu besar penghinaan mereka terhadap kebenaran, opini publik, dan etika pemerintah dalam hal mendukung agresi mereka terhadap Kuba,” bunyi pernyataan resmi tersebut sebagai bentuk protes atas tuduhan tanpa dasar dari Gedung Putih.
Langkah Amerika Serikat ini dinilai bukan hanya sekadar urusan bilateral, melainkan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip perdamaian di kawasan Amerika Latin. Kuba menuding AS bertindak layaknya otoritas tunggal dunia yang merasa berhak mengatur arus ekspor-impor domestik negara lain melalui paksaan dan intimidasi.
Padahal, menurut pemerintah pusat di Havana, posisi mereka selama ini adalah mitra kooperatif yang tidak pernah melakukan agresi terhadap kepentingan nasional AS. “Kuba tidak mengancam atau menyerang negara mana pun. Kuba adalah negara yang damai, suportif, dan kooperatif, yang bersedia membantu dan berkontribusi kepada negara-negara lain,” tegas pemerintah setempat, seperti dilansir RMOL.
Meski dibayangi ancaman kelangkaan energi dan krisis ekonomi yang sengaja diciptakan oleh Washington, Kuba menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan imperialisme. Rakyat Kuba dipastikan akan tetap mempertahankan kedaulatan nasionalnya meskipun harus menghadapi penderitaan akibat blokade yang kian brutal.
Dalam pesan penutupnya yang bernada perlawanan, Havana memperingatkan bahwa strategi penindasan ekonomi tidak akan pernah berhasil mematahkan mentalitas bangsa.
“Imperialisme keliru jika percaya bahwa tekanan ekonomi dan tekad untuk menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang akan mematahkan tekad mereka untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan mencegah Kuba jatuh, sekali lagi, di bawah dominasi AS,” pungkas pernyataan tersebut.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMATERA TERKININoer Fest 2026 Wadah Unjuk Bakat Siswa SD di Pasaman
Herman Saleh Harahap·14 menit yang lalu -
KOTA MEDANPemko Medan Targetkan Gotong Royong Kebersihan Lingkungan Rutin Setiap Bulan
Herman Saleh Harahap·54 menit yang lalu -
OLAHRAGAPanglima TNI Tinjau Kompetisi Primarox 2026 di BSD Tangerang
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
KRIMINALPolda Sumsel Bekuk Terduga Pelaku Curas Bersenjata Tajam
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
-
-
NASIONALUsman Husin Dukung Pengelolaan Lahan Gambut dan Magrove Cegah Karhutla
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
NASIONALKemnaker Tekankan Peningkatan Standar Kompetensi Teknisi Ponsel
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
KOTA MEDANPemko Medan Matangkan Lahan Proyek Pengolahan Sampah Listrik
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
SUMUTBobby Nasution Ajak Perantau Minang Dorong Ekonomi Keumatan dan Industri Halal
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan