Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (1/8/2025) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,35% dibanding hari penutupan perdagangan sebelumnya ke Rp 16.513 per dolar AS.
Baca Juga : Analis Pasar: Besok, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Melanjutkan Pelemahan Terbatas
Sementara itu, berdasarkan data rupiah Jisdor Bank Indonesia, rupiah juga melemah 0,21% ke Rp 16.494 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, sentimen risk-off kembali meningkat di sesi Asia pasca pengumuman terbaru pemerintah AS terkait pengenaan tarif di berbagai negara Asia.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,36% di Level Rp16.515 Per Dolar AS Pagi Ini
Sebagian besar negara mendapatkan pengenaan tarif yang lebih rendah dibandingkan pengumuman resiprokal 1 April, meskipun secara umum tarif yang dikenakan lebih dari 10%.
Saat ini pasar kembali mencermati arah perang dagang AS-China dimana kedua belah pihak sedang berunding menjelang deadline penundaan tarif AS-China.
Josua menyebut, sepanjang pekan ini, rupiah cenderung melemah, terutama disebabkan oleh penguatan data-data AS, serta hasil FOMC yang masih menimbulkan ketidakpastian terkait arah kebijakan the Fed.
"Pada pekan depan, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas, yang didorong oleh data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 yang diperkirakan melambat dibandingkan dengan kuartal I-2025," ujar Josua kepada Kontan, Jumat (1/8/2025).
Josua mengatakan, pada pekan depan, nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas, yang didorong oleh data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 yang diperkirakan melambat dibandingkan dengan kuartal I-2025.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,22% Berada di Level Rp 16.441 Per Dolar AS
Di sisi lain, dengan potensi melonggarnya ketenagakerjaan di AS, rupiah masih memiliki potensi penguatan di awal pekan.
Dari sisi domestik, Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah kontraksi manufaktur yang terjadi dalam 4 bulan terakhir.
Ini menunjukkan penurunan output produksi dan anjloknya permintaan baru.
Pada saat yang sama, permintaan ekspor baru kembali menurun, sedangkan perusahaan sedang dalam mode retrenchment yang ditandai dengan penurunan karyawan dan pembelian.
