Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (13/8/2025) nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sering dirilisnya data indeks harga konsumen AS.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Naik 0,18% Berada di Level Rp 16.261 Per Dolar AS di Awal Perdagangan Rabu (13/8/2025)
Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,54% ke level Rp 16.202 per dolar AS.
Sementara itu, mengacu Jisdor BI, rupiah ditutup di posisi Rp 16.237, menguat 0,37% dari Rp 16.298 pada perdagangan sebelumnya.
Baca Juga : Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi oleh Hasil Data Inflasi AS
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mencermati penguatan rupiah hari ini didorong rilis Consumer Price Index (CPI) AS Juli yang menunjukkan inflasi headline tetap 2,7% yoy, di bawah konsensus 2,8%.
“Sehingga, ini memicu repricing pemangkasan suku bunga The Fed pada September dan menekan indeks dolar AS,” katanya.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah 0,06% Bertengger di Level Rp16.290 Per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Naik 0,18% Berada di Level Rp 16.261 Per Dolar AS di Awal Perdagangan Rabu (13/8/2025)
Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini setelah kemarin ditutup melemah.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Turun 0,16% Bersandar di Posisi Rp16.306 Per Dolar AS Pagi Ini
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 16.261 per dolar AS, Rabu (13/8/2025).
Nilai tukar rupiah menguat 0,18% dibandingkan harga penutupan di level Rp 16.290 per dolar AS pada perdagangan kemarin, Selasa (12/8).
Pengamat Mata Uang & Komoditas PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS terjadi setelah AS dan China memperpanjang gencatan senjata tarif selama 90 hari.
"Kesepakatan ini mempertahankan tarif yang berlaku dan memberi waktu negosiasi lebih lanjut," ungkap Ibrahim,
Selain itu, pasar mencermati rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat mendatang.
Adapun pada Rabu (13/8), perhatian pasar tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Selasa malam.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, penjualan ritel Indonesia yang lebih rendah dari perkiraan menahan rupiah. Lukman dan Ibrahim kompak memperkirakan rupiah di Rp 16.200–Rp 16.350.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi oleh Hasil Data Inflasi AS
Pada perdagangan Rabu, (13/8/2025) nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/8/2025) seiring penguatan dolar AS.
Pasar kini menanti rilis data inflasi AS yang diperkirakan menjadi penentu nilai tukar rupiah.
Melansir dari Bloomberg pada Selasa, (12/8/2025), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,06% ke level Rp 16.290 per dolar AS. Sedangkan rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga tercatat melemah 0,28% ke posisi Rp 16.298 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang & Komoditas PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan penguatan dolar AS terjadi setelah AS dan China memperpanjang gencatan senjata tarif selama 90 hari.
“Kesepakatan ini mempertahankan tarif yang berlaku dan memberi waktu negosiasi lebih lanjut, sehingga mempengaruhi sentimen investor di kawasan,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, Ibrahim juga menambahkan, pasar juga mencermati rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat mendatang.
"Potensi deeskalasi konflik Ukraina bisa membebaskan pengiriman minyak Rusia dan menambah pasokan global," jelasnya.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS malam ini. IHK umum bulan Juli diperkirakan naik menjadi 2,8% secara tahunan, sementara IHK inti diperkirakan menembus di atas 3% untuk pertama kali sejak Februari 2025.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai pelemahan rupiah juga dipicu oleh data domestik yang kurang memuaskan.
"Data penjualan ritel Indonesia yang lebih rendah dari perkiraan ikut menahan rupiah," katanya.
Lukman menambahkan, arah rupiah pada perdagangan Rabu (13/8/2025) akan sangat dipengaruhi oleh hasil data inflasi AS.
"Kalau data ternyata lebih rendah dari perkiraan karena faktor perubahan biro statistik di bawah kepemimpinan baru pilihan Trump, rupiah bisa berbalik menguat, meski terbatas," tuturnya.
Untuk perdagangan Rabu (13/8/2025), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.200 – Rp 16.350 per dolar AS.
Senada, Ibrahim juga memproyeksikan rupiah akan ditutup melemah terbatas pada kisaran Rp 16.200 – Rp 16.350 per dolar AS.
