Nusantaraterkini.co, TEHERAN - Menteri Luar Negeri Iran, SEED Abbas Araghchi mengatakan bahwa tidak ada pengaturan atau komitmen apa pun yang dibuat untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya ketegangan menyusul yang dilakukan oleh Israel dan AS di wilayah Iran, Kamis (26/6/2025).
Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB, Araghchi mengatakan bahwa kemungkinan untuk memulai kembali pembicaraan sedang dipertimbangkan, tetapi akan bergantung pada apakah kepentingan nasional Teheran dilindungi.
"Keputusan kami semata-mata akan didasarkan pada kepentingan Iran," katanya.
"Jika kepentingan kami mengharuskan kembali ke meja perundingan, kami akan mempertimbangkannya. Namun pada tahap ini, tidak ada kesepakatan atau janji yang dibuat dan tidak ada pembicaraan yang dilakukan," sambungnya.
BACA JUGA: DPRD Sumut Desak Pemerintah Segera Evakuasi WNI dari Iran
Araghchi menuduh Washington membalas Iran dalam putaran negosiasi sebelumnya terkait upaya menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 dan pencabutan sanksi-sanksi AS.
Diplomat Iran itu juga mengonfirmasi bahwa undang-undang yang menangguhkan kerja sama dengan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi mengikat setelah disahkan oleh parlemen dan disetujui oleh Dewan Wali (Dewan Wali) Iran, sebuah lembaga tinggi pengawas konstitusi.
“Undang-undang tersebut kini bersifat wajib dan akan diterapkan. Kerja sama kami dengan IAEA akan mengambil bentuk baru,” katanya.
Araghchi juga menyatakan bahwa kerusakan akibat perang 12 hari dengan Israel adalah "serius", dan bahwa para pakar dari Organisasi Energi Atom Iran (Atomic Energy Organization of Iran/AEOI) sedang melakukan penilaian terperinci. Dia menambahkan bahwa pertanyaan mengenai tuntutan ganti rugi menjadi agenda utama pemerintah.
Diketahui, konflik dimulai pada 13 Juni ketika Israel melancarkan serangan udara terhadap beberapa sasaran di seluruh Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir, yang menampilkan sejumlah komandan senior, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum Iran dan AS memulai melanjutkan negosiasi nuklir tidak langsung di Muscat, Oman, pada 15 Juni.
BACA JUGA: Pengamat Hargai Analisa SBY soal 5 Orang Kuat Penentu Perang Iran Vs Israel
Sebagai balasannya, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Israel, yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan.
Pada Sabtu (21/6/2025), Angkatan Udara AS menyerang tiga situs nuklir utama Iran. Sebagai balasannya, Iran menembakkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar pada Senin (23/6/2025). Konflik selama 12 hari itu berakhir dengan gencatan senjata antara Iran dan Israel pada Selasa (24/6/2025).
(Zie/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
