Indeks S&P 500 Ditutup Melemah di Tengah Kekhawatiran Investor
Indeks S&P 500 ditutup melemah di tengah kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (11/6/2025) Indeks S&P 500 ditutup melemah di tengah kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
BACA JUGA: Wall Street Dibuka Menguat Tipis: Indeks Dow Jones Industrial Average Naik 54,5 Poin
Di sisi lain, laporan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran akan tekanan harga akibat tarif.
Sementara pelaku pasar masih menanti rincian lebih lanjut dari pembicaraan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
BACA JUGA: Wall Street Menguat untuk Hari Kelima Berturut-turut Terkerek Genjatan Senjata Tarif
Melansir Reuters, indeks S&P 500 melemah 0,27% dan ditutup di level 6.022,24. Indeks Nasdaq turun 0,50% ke 19.615,88, sementara Dow Jones Industrial Average nyaris stagnan di 42.865,77.
Dari 11 sektor dalam indeks S&P 500, tujuh sektor mencatat pelemahan, dipimpin oleh sektor konsumer non-primer yang turun 1,02%, disusul sektor material yang melemah 0,98%.
Kinerja Wall Street sempat menguat tipis, namun kemudian berbalik melemah setelah sumber menyebutkan bahwa AS tengah bersiap melakukan evakuasi sebagian staf di kedutaan besarnya di Irak karena meningkatnya risiko keamanan.
Seorang pejabat senior Iran sebelumnya mengatakan bahwa Teheran akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan tersebut jika negosiasi nuklir gagal dan konflik terjadi.
Saham Amazon turun 2%, sementara Nvidia melemah 0,8%, keduanya turut menekan kinerja indeks S&P 500.
Data ekonomi menunjukkan bahwa indeks harga konsumen hanya naik tipis pada Mei.
Namun, para ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang akibat tarif impor yang diberlakukan pemerintahan Trump.
Secara tahunan, inflasi utama tercatat sebesar 2,4%, lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 2,5%.
"Masih ada kekhawatiran bahwa tarif Trump akan memicu inflasi, namun laporan ini lebih baik dari ekspektasi dan meningkatkan harapan bahwa The Fed akan memiliki ruang untuk memangkas suku bunga tahun ini," ujar Robert Pavlik, Manajer Portofolio Senior di Dakota Wealth.
Menurut alat FedWatch dari CME Group, pelaku pasar memproyeksikan peluang sebesar 70% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan September mendatang.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan dagang dengan China telah "selesai", hanya beberapa jam setelah negosiator dari Washington dan Beijing menyepakati kerangka kerja untuk menghidupkan kembali gencatan dagang yang rapuh.
Kesepakatan tersebut juga mencakup pencabutan pembatasan ekspor China atas mineral rare earth dan komponen industri penting lainnya.
Dengan keyakinan investor bahwa AS akan mencapai kesepakatan dagang yang bisa meredakan hambatan tarif tinggi dari Trump, indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan mendekati rekor tertingginya pada Februari lalu.
"Skenario terburuk kemungkinan sudah lewat. Sekarang ini lebih soal bagaimana kedua pihak menyelamatkan muka," kata John Praveen, Managing Director di Paleo Leon, Princeton, New Jersey.
"Mereka memang sudah capai kesepakatan. Pertanyaannya tinggal apakah bisa benar-benar diterapkan."
Menurut seorang pejabat Gedung Putih, kesepakatan dengan China memungkinkan AS mengenakan tarif sebesar 55% atas barang impor dari China.
Tarif ini terdiri dari tarif dasar timbal balik sebesar 10%, tarif 20% untuk perdagangan fentanil, serta tarif tambahan 25% sebagai kelanjutan dari tarif sebelumnya.
Sementara itu, China akan mengenakan tarif 10% atas barang-barang impor dari AS.
Saham Tesla naik tipis 0,1% setelah CEO Elon Musk menyatakan penyesalannya atas beberapa unggahan di media sosial pekan lalu yang mengkritik Trump secara berlebihan.
Pasar saham AS telah mengalami reli dalam beberapa pekan terakhir, bangkit dari tekanan pada bulan April yang dipicu oleh kebijakan tarif "Hari Pembebasan" dari Trump.
Saham GitLab, penyedia platform pengembangan perangkat lunak, anjlok hampir 11% setelah laporan keuangan kuartalannya mengecewakan investor.
Sementara itu, saham pengecer gim GameStop turun 5,3% setelah mencatat penurunan pendapatan pada kuartal pertama.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SEPAKBOLAHarry Kane Ungkap Rahasia Sepak Bola Modern, Fleksibilitas Posisi Jadi Kunci
hendra·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALWNI Direkrut Jadi Tentara Rusia, Cuma Dilatih Sebulan Langsung Dikirim ke Medan Perang
hendra·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALTerseret Kasus Dugaan Pelecehan, Anggota DPRD Kota Serang Minta Tak Ditahan
hendra·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPolri Bongkar TPPO Berkedok Rekrutmen Tentara Rusia, 13 Orang Jadi Tersangka
hendra·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALImigrasi Denpasar Amankan 3 WNA Diduga Tawarkan Jasa Prostitusi, Tarif Capai Rp13,7 Juta
hendra·3 jam yang lalu -
NASIONALGibran Didesak Mundur Usai Putusan MA, Denny Indrayana Minta DPR Mulai Proses Pemakzulan
hendra·4 jam yang lalu -
NEWSOJK Pacu Inovasi Keuangan Syariah, Produk dan Layanan Diminta Lebih Berpihak pada Konsumen
hendra·5 jam yang lalu -
NEWS VIDEOEdarkan 599 Vape Narkoba, E-S Pegawai Lapas Kelas I Medan Terancam Dipecat
Fadli Tara·5 jam yang lalu -
SUMSELKetua RT dan RW Jadi Korban Pembacokan Brutal di Palembang, Kuasa Hukum Desak Polisi Tangkap Pelaku
hendra·5 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALKetua RT dan RW di Palembang Dibacok OTK, Diduga Gegara Sengketa Lahan
Rozie Winata·6 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan