Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Di Tengah Tekanan Ekonomi, Seruan “Tak Punya Pilihan” Dinilai Cermin Lemahnya Oposisi dan Minimnya Alternatif Kebijakan

Pernyataan pakar komunikasi politik Hendri Satrio menyebut masyarakat “tidak punya pilihan selain percaya dan mendukung” pemerintahan Presiden Prabowo

Pakar Komunikasi Politik Hendri Satrio menilai kondisi ekonomi yang menekan berbagai lapisan masyarakat membuat ruang gerak publik semakin sempit (foto:istimewa)
Pakar Komunikasi Politik Hendri Satrio menilai kondisi ekonomi yang menekan berbagai lapisan masyarakat membuat ruang gerak publik semakin sempit (foto:istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pernyataan menyebut “tidak punya pilihan selain percaya dan mendukung” pemerintahan Subianto menuai sorotan. 

Di tengah yang kian terasa, narasi tersebut dinilai mencerminkan situasi politik yang minim kontrol kritis dan alternatif kebijakan.

Hensa sapaan akrabnya menyampaikan bahwa yang menekan berbagai lapisan masyarakat membuat ruang gerak publik semakin sempit. Menurutnya, dalam situasi seperti ini, pilihan paling realistis adalah mempercayakan sepenuhnya langkah perbaikan kepada pemerintah.

“Mungkin marah netizen kalau saya berikan solusinya adalah ini saatnya kita bersama mendukung program pemerintah dan percaya dengan apa yang dilakukan oleh Pak Prabowo, ya karena kita tidak punya pilihan,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Namun, pernyataan “tidak punya pilihan” justru memunculkan pertanyaan mendasar tentang kualitas demokrasi dan fungsi pengawasan terhadap kekuasaan. 

Dalam sistem demokrasi, publik semestinya selalu memiliki pilihan: mendukung, mengkritik, atau menuntut koreksi kebijakan. Ketika dukungan diposisikan sebagai satu-satunya jalan, ruang kritik berpotensi tereduksi.

Hensa juga menyoroti bahwa tidak hanya menghantam kelas bawah, tetapi mulai dirasakan kelas menengah dan atas. Ia menyinggung dinamika di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia sebagai indikator kegelisahan sektor keuangan.

Artinya, persoalan yang dihadapi bukan semata isu persepsi, melainkan menyentuh stabilitas dan kepercayaan pasar. Jika benar demikian, maka yang dibutuhkan bukan sekadar kepercayaan publik, melainkan transparansi kebijakan dan langkah konkret yang terukur.

Sebelumnya, pengamat politik Rocky Gerung juga sudah memperingatkan potensi gejolak pada Februari, menyusul meningkatnya ketegangan antara elit politik dan tekanan ekonomi di akar rumput. 

Ia memprediksi adanya benturan antara frustrasi di kalangan elit dan realitas masyarakat yang menghadapi ancaman PHK serta kesenjangan antara data resmi dan kondisi lapangan.

Dalam konteks ini, seruan untuk “percaya saja” bisa dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas persoalan. Kepercayaan publik bukanlah blank cheque, melainkan hasil dari konsistensi kebijakan, keberpihakan nyata pada rakyat, serta kemampuan pemerintah mengelola krisis secara transparan.

Hensa menegaskan bahwa keresahannya bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan agar pemerintah segera memikirkan solusi konkret. Ia bahkan menyebut bahwa mayoritas masyarakat tidak memiliki privilese ekonomi untuk mencari alternatif hidup di luar negeri.

Pernyataan tersebut secara implisit menggambarkan keterbatasan daya tahan ekonomi masyarakat. Namun, di sisi lain, kondisi itu justru memperkuat urgensi evaluasi kebijakan fiskal, penciptaan lapangan kerja, serta stabilisasi sektor keuangan—bukan sekadar ajakan untuk bersabar.

Kini, bola sepenuhnya berada di tangan pemerintahan Prabowo. Di tengah ekspektasi tinggi dan tekanan ekonomi yang nyata, publik tidak hanya menunggu mereka menuntut kepastian arah, keberanian mengambil keputusan, dan hasil yang dapat dirasakan secara langsung. 

(LS/Nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait