Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Demo Besar di Prancis dan Barcelona Berujung Ricuh, Penjarahan hingga Pembakaran

Demo di Prancis dan Barcelona berujung ricuh. Polisi Prancis menangkap 135 orang, sementara di Spanyol terjadi penjarahan dan pembakaran.

Demo Besar di Prancis dan Barcelona Berujung Ricuh, Penjarahan hingga Pembakaran. (Foto: ilustrasi AI)
Demo Besar di Prancis dan Barcelona Berujung Ricuh, Penjarahan hingga Pembakaran. (Foto: ilustrasi AI)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Gelombang demonstrasi di Prancis dan Spanyol diwarnai kericuhan setelah aksi massa di sejumlah wilayah berujung bentrokan dengan aparat, penjarahan toko, hingga pembakaran kontainer sampah. Di Prancis, polisi melaporkan telah menangkap 135 orang, sementara demonstrasi di pusat Barcelona juga berakhir dengan intervensi aparat keamanan.

Dilansir Xinhua, Minggu (25/10/2026), demonstrasi kembali berlangsung di berbagai kota di Prancis pada Sabtu (24/10/2026). Kepolisian memperkirakan sekitar 410.000 orang turun ke jalan di seluruh negeri.

Di Paris, jumlah peserta aksi diperkirakan mencapai 110.000 orang. Namun, Konfederasi Umum Buruh (CGT) memiliki perkiraan lebih tinggi, yakni hampir 800.000 demonstran di seluruh Prancis, termasuk sekitar 250.000 orang di ibu kota.

Kericuhan dilaporkan terjadi di kawasan Cours de Vincennes, Paris. Lebih dari 500 orang yang disebut sebagai perusuh dilaporkan menyerang aparat penegak hukum.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan, polisi telah melakukan 135 penangkapan hingga pukul 13.00 waktu setempat pada Sabtu.

Aksi demonstrasi serupa sebelumnya berlangsung pada 17 Oktober. Saat itu, sekitar 550.000 orang mengikuti unjuk rasa di berbagai wilayah Prancis. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sebanyak 2.397 orang ditangkap dalam demonstrasi yang diwarnai kekerasan tersebut.

Demo Anak Muda di Barcelona Berubah Menjadi Kerusuhan

Sementara itu, demonstrasi yang diikuti ratusan anak muda di pusat Barcelona, Spanyol, juga berakhir ricuh pada Sabtu. Sejumlah peserta aksi dilaporkan menjarah toko, membakar kontainer sampah, serta melempar batu dan botol ke arah petugas keamanan.

Para demonstran, yang sebagian besar mengenakan pakaian hitam, berkumpul di Catalonia Square setelah seruan aksi menyebar melalui media sosial. Demonstrasi tersebut menggunakan tagar berbahasa Katalan, “Institut Indignats”, yang terinspirasi dari gerakan Lycees Indignes yang memicu aksi protes pelajar di Prancis dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi memanas ketika sebagian demonstran melakukan perusakan dan penjarahan. Polisi kemudian turun tangan untuk mengendalikan keadaan.

Setelah aparat melakukan intervensi, para demonstran berpencar ke dalam kelompok-kelompok kecil. Bentrokan dilaporkan terjadi di sejumlah jalan samping di sekitar pusat kota. Beberapa orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara sejumlah lainnya ditahan.

Kerusuhan berlangsung tidak jauh dari lokasi kamp tenda yang telah berdiri selama beberapa pekan. Kawasan tersebut sebelumnya menjadi tempat penyampaian tuntutan terkait hak atas perumahan.

Insiden itu terjadi di tengah aktivitas warga dan wisatawan yang memadati pusat Barcelona. Untuk mengantisipasi dampak kerusuhan, kepolisian kota Barcelona, Guardia Urbana, menutup sejumlah ruas jalan. Beberapa toko juga menurunkan pintu penutup guna mencegah kerusakan lebih lanjut.

Presiden Pemerintah Regional Catalonia, Salvador Illa, mengecam tindakan kekerasan dan vandalisme yang terjadi selama demonstrasi. Melalui platform X, ia menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan maupun perusakan.

“Serangan, ancaman, atau tindakan yang menyebabkan kerusakan bukanlah hak demokratis. Siapa pun yang melakukan hal tersebut akan menanggung konsekuensinya,” tulis Illa.

Ia menambahkan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat di Catalonia dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

Kericuhan di Barcelona menambah perhatian terhadap gelombang demonstrasi anak muda yang dipengaruhi gerakan protes di Prancis. Meski demonstrasi menjadi sarana menyampaikan aspirasi, aksi di kedua negara tersebut turut diwarnai tindakan kekerasan yang memaksa aparat keamanan turun tangan.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait